Diary Virus Merah Jambu

Hai, Diary….

Jangan bosan menampung ceritaku ya. Soalnya aku udah nyiapin cerita yang bakal ngebuatmu kaget! Hehe….
Kau tahu? Tadi pagi tiba-tiba saja si Mama nyeplos, “Kak, kenapa sih pacaran sama Dinda? Bukannya mantan Kakak dulu lebih oke ya?” Wah, Diary, sebenarnya aku udah ga tau lagi mau ngejawab gimana. Takut salah ucap. Takut ada lubang kata yang bisa disusup sama Mama. Ah, pokoknya berabe banget. Apalagi kan si Mama ini orangnya kritis. Tapi dengan ilmu sales yang aku serobot dari toko sebelah, akhirnya bisa nyusun kalimat juga aku. Huft….

Mau tahu gimana aku jawab?

“Aku udah ngerasa cocok aja sama Dinda, Ma. Dia orangnya baik lho. Sopan pula.” Dari sini aja ya, Diary, jantungku udah lari-larian. Aku udah mau pingsan saat Mama ngebuka mulutnya lagi, bersiap dengan pertanyaan selanjutnya!

“Bukankah mantan Kakak yang dulu juga baik, sopan, dan lain-lain, dan lain-lain. Mama lebih suka lho sama dia.”

Diary, sebenarnya saat Mama selesai berkata seperti itu, ingin sekali aku jawab, “Aduh, Mama. Sebenarnya siapa sih yang pacaran? Siapa yang putus? Kok malah Mama yang ga bisa move on?” Tapi karena rasa hormat ini lebih besar dan membludak, ga jadi deh.

“Ma, mungkin mantan Kakak yang dulu baik, sopan, dan sederat sifat baik lainnya. Tapi itu dulu, Ma. Saat mata Kakak masih setengah terbuka.” Ya ampuun, Diary… kalau dibolehin pergi, aku mau ngilang aja deh.

“Setengah terbuka gimana, Kak?”

“Saat itu Kakak sadar, cuma sebatas kagum aja sama Leona. Kagum karena dia cerdas, pintar bergaul, adaptasinya juga cepet, dan sebagainya. Tapi semakin ke sini kok ya sifat aslinya muncul. Ternyata Leona itu tempramental, Ma.” Baru kali ini kami berdialog seintim ini, Diary. Biasanya Mama sibuk bingiiiits! (aku mau pinjem istilah dari sinetron yang lagi nge-hits)

“Oya, Mama baru tahu lho kalau Leona itu tempramental. Di mata Mama dia itu cewek yang baik. Pantas disandingkan dengan anak Mama. Trus kenapa putus?”

Oke, Diary… dari sini bola panas itu bergulir….

“Karena….” tenggorokanku tercekat, serasa ga bisa nerusin kalimat. “Karena Leona ga bisa diarahkan, Ma. Maunya seenak dia sendiri. Dia hanya cinta sama dirinya, bukan dengan orang yang menyayanginya. Dari situ mata Kakak mulai terbuka. Dan segalanya jelas terlihat.” Habis kalimat itu selesai, napasku ngos-ngosan. Berasa habis lari ngelilingin Monas, meski aku belum pernah pergi ke sana.

Mama diam, Diary. Tangannya sibuk merangkai bunga. Dan baru saja aku mau mengangkat pantat, mau masuk kamar maksudnya, kalimat dari Mama kembali bernyanyi, “Ya sudah kalau Kakak sekarang sudah menemukan pengganti Leona.
Siapa tadi namanya?” mata mama sama sekali tidak melihat ke arahku, melirik pun tidak! Okelah, tak apa.

“Uhm… Dinda, Ma. Adik kelas, semester empat.”

“Iya itu. Bagus kalau anak Mama sudah bisa move on, sudah bisa kembali menata hati. Yang Mama khawatirin Kakak tuh lagi sakit hati. Trus kuliahnya tersendat. Soalnya udah lama banget Mama ga ngeliat Leona ke rumah lagi. Jangan yah.”

“Iya, Ma. Kakak sadar kok, masih ada berjuta cewek di luar sana, yang lebih daripada Leona. Ngapain juga Kakak harus sakit hati trus ngurung diri di kamar. Tenang aja, Ma, hati ini (saat itu aku sambil nepuk dada, hebat kan, Diary) setegar karang. Kakak ini kan miniaturnya Papa.” Mataku sambil kedip-kedip, trus alis mata kuangkat sedikit. Tapi Diary, Mama tetap aja sibuk sama karangan bunganya, huft.

“Dinda ini juga ngertiin Kakak banget, Ma. Kakak udah ngerasa klop. Semoga aja ini yang terakhir, udah gamau lagi PDKT sama cewek, ngemodusin yang ga jelas. Toh kami juga udah sama-sama paham dan ngerti karakter plus kondisi masing-masing. Kakak ga bisa ngebayangin harus cerita dari A sampai Z tentang profil pribadi, kelurga, sekolah, masa lalu, dan segala imbuhan dalam hidup sama cewek baru, Ma. Jadi doain ya, biar kami langgeng kayak Mama sama Papa.” Kalimatku yang udah kayak kereta ini paling ga bisa ngebuat hati lebih plong. Adem.

“Kak, pesan Mama, jika Dinda ini bisa patuh dengan arahan Kakak, jangan dilepasin ya. Mama percaya penuh pokoknya. Tapi Mama mohon, jangan kotori kepercayaan Mama ini. Jangan lupa juga sama skripsinya. Buat Mama sama Papa bangga. Oke….”

Diary, tadi sore itu benar-benar hangaaaaaat banget. Jarang aku bisa ngobrol dengan Mama, apalagi dengan tema virus merah jambu yang sukses ngebuat aku senyum-senyum sendiri saat nge-chat sama Dinda.

Diary, aku titip foto Dinda ya. Tolong jagain dia dalam tidurnya, sematkan wajahku (yang ganteng ini) dalam mimpinya. Hehe….

Selamat malam, Diary. Selamat tidur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s