Senyum Demokrasi

“WHAT?!!! Ini beneran?” teriak Zia saat membaca artikel tentang penghasilan anggota legislatif yang mencapai nominal 50juta. Skonyong gambar dan rincian gaji-gaji yang dianggapnya fiktif itu disodorkannya di depan mataku.

Gaji Anggota Dewan

“Zi, biasa aja dong”, jawabku datar.

“Biasa aja gimana maksudmu? Ini uang negara Cuma buat ngelap ingus mereka doang pas rapat, kamu bisa bilang biasa aja?!” Zia masih setengah teriak.

“Itu sudah jadi rahasia umum keleus….” Mataku masih lekat membaca cerpen anak di rubrik sebelah. Memang kalau tiap hari Minggu seperti ini, membaca koran menjadi agnda rutin bagi kami, sahabat kecil yang nge-geje. Dibilang tidak bisa move on, silahkan. Seperti saudara dempet, monggo. Yang pasti, kami memang tak terpisahkan.

“Ini nih, yang bikin aku makin gamau memanfaatkan hak pilih tanggal 9 April nanti. Mau dibawa ke mana rakyat Indonesia kalau yang dikasih amanat saja seperti ini. Bisa makin miskin moral negara!” ucapnya sambil mencomot kue kering.

Zia memang agak enggan menggunakan hak pilihnya pada pesta demokrasi kali ini. Menurutnya, tak ada calon yang dianggap berkompeten. Semua orang hanya memanfaatkan aji mumpung; mumpung punya duit, mumpung punya nama, mumpung punya antek-antek yang mau mengusung namanya sekaligus menggembar-gemborkan profilnya pada semua orang, de el el. “Emang siapa dia?” selorohnya lagi.

Aku hanya bisa tersenyum sumbang. Kinerja oarang-orang di pemerintahan yang tak bisa dibanggakan itu sudah menjadi rahasia umum, mengedepankan ego dan kepentingan partai politik yang mengusungnya adalah kewajiban yang tak terbantahkan. Bahkan adanya isu-isu yang menyatakan jika para pembesar bertarung mati-matian agar nominal yang mereka gunakan saat pemilihan bisa kembali sudah terdengar biasa di telinga.

“Kau tahu, Zi? Negeri ini sakit, kronis. Ibarat tumor kalau tidak segera diobati atau bahkan diamputasi, bisa menjalar dan merusak organ yang sehat. Jadi Zi, tugas kita sekarang itu bisa dibilang berat lho.”

“Tugas? Emangnya apa, Lan?” tanyanya. Posisi duduknya diubah. Mengahadapku. Matanya pun lekat.

“Manfaatkan hak pilih kita besok, tanggal 9 April. Biar orang-orang yang duduk di kursi legislatif itu bisa diregenerasi. Biar diisi sama orang-orang yang lebih kompeten di bidangnya.”

“Tapi, Lan. Aku sudah terlanjur illfeel sama mereka-mereka itu”, suara Zia terdengar gemas. Mungkin jika calon-calon legislatif itu tengah duduk bersama di sini, mereka akan digerus sama dia.

“Aku tahu kok yang kamu takutkan. Background mereka kan? Juga sepak terjang mereka selama ini?” anyaku menelisik.

“Kok tahu?”

“Tahu lah, apa sih yang ga kutahu tentangmu, Zi. Kamu ngelindur tadi malam juga aku tahu. Hahaha….” lalu kami tertawa bersama. “Jangan khawatir, aku punya solusinya kok. Tuh, di pojok bawah kan ada websitenya Bawaslu, klik aja. Jadi kau akan tahu bagaimana sosok para caleg itu.”

“Uhm…. tapi kalau ternyata ga ada caleg yang bagus gimana dong, Lan? Aku kan gamau menggiring negeri ini ke jurang yang lebih dalam. Aku ga mau seperti anggota BPUPKI dan PPKI itu yang Cuma mengantar Bangsa Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Kenapa mereka ga mengantar kita sampai masuk? Kenapa Cuma di depan gerbang doang?”

“Ya setidaknya kalau tak ada yang paling bagus, ya pilihlah yang paling baik di antara yang buruk, Zi. Aku dulu juga niatnya mau golput lho. Tapi setelah sharing sama temen-temen di kampus, ternyata golput itu hanya akan semakin menambah daftar panjang kebobrokan negeri ini. Bayangkan surat suara kita yang masih tak ternoda itu dimanfaatkan sama pihak-pihak yang tak bertanggung jawab? Iyuuuuh kan?”

“Lan, mari kita rayakan pesta demokrasi. Aku memang ga mau uang negara diberikan pada anggota dewan yang ga tahu malu itu. Tapi aku lebih ga mau mereka yang duduk itu Cuma bisa tidur dan debat kusir. Ya paling ga, akan ada sebuah mufakat yang bisa mengantar Indonesia masuk ke lokasi kemerdekaan yang sesungguhnya.”

“Jadi pemilih yang cerdas dan bijak ya….”

Setelah itu, kulihat senyum Zia mengembang apik di sudut bibirnya. Kami berpelukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s