Pantai Berpasir Bintang

Oleh: Aila Nadari

Kukirimkan salam ini bersama angin yang berhembus. Biarkan dia mengalir lembut mengisi hampa harimu. Pun dengan pendar bintang yang manja. Menyemat namamu indah di kolong langit.

Bidadariku, baru parasmu yang berendam dalam mata air kasihku. Tak perlu kutelisik gaunmu, apalagi kusembunyikan dalam lumbung sunyi. Senyummu bahkan mampu mempersingkat waktu. Ah….

Aku mengagumimu melebihi senja.

Kusudahi jemari ini menari di atas tuts laptop. Membayangkannya di sela kerja hanya akan membuatku gila. Afifah, nama yang indah untuk dirapal, pun dengan binar mata yang menyala. Pertemuan kita nanti, akan lebih indah dari yang telah lalu. Telah kusiapkan mawar cantik ini. Semoga dia tak minder bertemu dengan gadis secantik dirimu.

***

Hadrian dan Afifah, begitu mereka memperkenalkan diri. Sebuah kebetulan yang berulang atau memang sudah garis tangan dari Tuhan? Mereka bertemu di Bandara Soekarno Hatta awalnya. Sama-sama akan terbang dengan tujuan Palestina, lalu percakapan mulai akrab di sepanjang perjalanan. Begitu pula saat kembali ke Indonesia. Kesamaan jadwal dan tempat duduk, membuat kata yang terlontar tak lagi tertahankan.

Hanya gelak yang terdengar kemudian.

Satu minggu setelah mendarat kembali di Indonesia.

Mereka janjian untuk makan malam di daerah Gandaria. Mulai saat itu, mereka makin sering terlihat bersama. Sudah merasa cocok tentunya. Apalagi di usia yang semakin matang. Dan senyum mereka masih mengembang hingga badai datang.

Kabar kedekatan Hadrian dan Afifah lambat laun mulai tersebar via angin buritan. Layaknya pasangan muda-mudi yang baru melancarkan aksi pendekatan, pipi mereka meroda tatkala sindiran mulai menyapa. Namun di sisi lain, kontra tak mau kalah berkacak pinggang di garda terdepan.

Sejak semalam, Afifah sudah mulai diceramahi oleh teman sekantornya. Mereka bilang betapa banyak laki-laki di luar sana yang mengaguminya. Tapi mengapa Afifah memilih Hadrian? Kekuatan cinta Afifah memang kuat, dan teman-temannya mengakui hal itu. namun, perbedaan yang menguatkan mereka itu jauh lebih dahsyat.

“Inikah hasil dari ibadahmu di Masjidil Aqsa bulan lalu? Kukira imanmu akan bertambah tebal. Tapi apa? Kau malah kepincut sama pemuda itu!” rangkaian kata itu keluar begitu saja dari mulut Lani saat Afif curhat padanya tentang Hadrian. “Fif, kau beruntung dilahirkan sebagai muslim. Jangan sampai saat terakhir nani, kau berpaling dariNya.”

Kata itu berderet bak lokomotif tua di ujung jembatan. Jika saja Afif tak cepat-cepat membelokkannya dengan fokus yang lain, bukannya tak mungkin Lani masih berlama-lama dengan lokomotf tua itu.

Begitu pula dengan Hadrian, dia mulai dijauhi teman-temannya. Mereka berpendapat jika Hadrian telah mencemarkan nama baik organisasinya.

“Kau adalah pelayan Tuhan, Ian. Kau harus ingat itu!” ucap sang pembimbing. “Tidakkah kau bahagia, Ian? Telah dibaptis atas nama Tuhanmu yang Tiga. Dia bahkan telah lahir untuk menghapus segala dosamu dan kita. Beginikah caramu berterima kasih padaNya?”

“Jika dia tidak cinta pada Tuhan kita, kalian tidak akan bisa menikah. Sebab dihadapanNya nanti kalian berjanji akan memuliakanNya sebagai keluarga.”

***

Afifah dan Hadrian terpaku. Meski mereka masih tetap rutin bertemu namun pertemuan-pertemuan itu makin kompleks. Percakapan yang mereka hadirkan rasanya terhenti di sebuah tanda baca yang bahkan mereka tak tahu apa namanya. Mereka saling mencinta, mengagumi dengan karakteristik masing-masing. Hadrian yang dewasa dan mapan, begitu pula Afifah yang mandiri dan pintar, serta sederetan sifat baik mereka.

Hubungan yang hampir berjalan enam bulan itu makin mengerucut rasanya. Beginikah kekuatan perbedaan?

***

Afifah Fawwaz,

Kusuka caramu mengaji dan kau menyukai nyanyiku. Mata kita berbinar dan membuat cahaya aneh saat menyatu. Aku sangat berterima kasih kepada Tuhanmu, telah mencipta wanita sepertimu. Namun, surga kita ternyata berseberangan dan belum kujumpa jembatan di antaranya.

Afifah,

Aku menangis saat mengingat asal mula kita, aku dibaptis dan kau diazani. Andai saja Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal yang sarat akan perbedaan itu bernyawa, siapa tahu mereka juga akan saling jatuh cinta….

Tapi aku akan tetap mencintaimu tanpa jeda dan tanda baca. Karena ini cintaku.

***

Ignatius Hadrian Camelo,

Tuhan memang satu, di singgasana kerajaanNya. Dia tengah tersenyum padaku saat ini yang tengah sendirian dan tersedu sambil memeluk mushaf cintaNya. Dia yang menyuruh Rohulkudus untuk meniupkan ruh suci di rahim Maria. Allah SWT-lah yang memberi seluruh mukjizat agar para Nazaret mau mengakuinya sebagai Rasul, utusanNya.

Bahkan Allah SWT pula yang menyuruh menurunkan seluruh hidangan saat perjamuan Al-Masih dengan para muridnya agar mereka beriman. Begitu pula dengan seizinNya, di hari itu menjadi hari raya bagi mereka.

Ian, aku mencintai Tuhanmu, Dia pun Tuhanku. Namun, Dia hanya satu, yang Esa. Bukan Satu dari yang Tiga. Terlepas dari hal itu, aku masih menghormatimu. Mungkin kita memang tak ditakdirkan jodoh di dunia yang penuh dengan perbedaan ini. Namun kuharap, kita bisa bertemu lagi di Surga nanti dengan status muslim.

***

Cincin ini jatuh saat kutuntaskan kata yang tertulis di surat elektroniknya. Dalam foto yang tersemat, Afifah Fawwaz makin cantik dengan hijab yang menutupi dadanya.

Wonosari, 8 Januari 2014

One thought on “Pantai Berpasir Bintang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s