Arakan Mimpi

“Apa kau punya mimpi? Yang masih semu tapi sangat ingin kau raih suatu hari nanti”, tanya Sasti pada suatu senja, di bibir telaga Situ Gunung, Sukabumi.

Sekonyong kualihkan pandang tepat ke sudut matanya yang mengambang. Pias jingga terukir halus di sana, “Tentu saja aku punya. Kalau tak, kita tak mungkin memancing senja saat ini.”

Angin mulai menyapa, agak kacau. Dingin pun memagut. Sedangkan kami masih tetap di posisi yang sama.

“Aku ingin punya rumah seperti villa ini. Di daerah pegunungan yang jauh akan padatnya kesibukan. Dengan udara yang sejuk dan pekarangan yang luas. Sepuluh tahun lagi.” Suaranya semilir angin, menciptakan riak yang riuh di air telaga. “Kau bagaimana?”

“Aku? Aku mau jadi wirausaha di Bumi Gunung Kidul, Yogyakarta. Menciptakan lapangan pekerjaan di sana agar perekonomian menggeliat.” Korneaku mengail sejumput mega yang berarak. Mereka bergerak pelan, tapi pasti.

“Wirausaha katamu?” suaranya tertahan di permukaan air. Hampir menyembul ia. Namun, kembali tenggelam sesaat lalu terhentak. “Tapi, bagaimana dengan kontrak kerjamu?”

“Ya, itulah hambatan yang krusial, tapi nomor dua. Kau tahu hambatan terbesarku?” Aku mulai beralih posisi. Bermanuver 90 derajat ke kanan, menghadapnya.

“Apa?” Matanya menyipit. Mencari pembenaran dan bukti.

“Keluarga; Mama, Papa dan Adikku. Aku tak tahu cara mempertanggungjawabkannya. Mereka bangga dengan pancapaianku sekarang pun masih menaruh banyak harap dan semoga. Terlalu takut mengecewakan mereka jika aku melepas semuanya.” Sekarang, giliranku yang menebarkan pandangan ke arah kelam punggung bukit. Tak ada lagi cahaya yang memantul ke sana. Mentari benar-benar pamit.

“Lani, kau tahu kan kalau kita sudah tanda tangan kontrak? Kau lupa kalau kita ini milik negara? Kewajibanmu, kawan.” Nadanya seperti makar, lantang. Ilalang kembali dipermainkan angin yang nakal. Mengangguk seolah mengiyakan pernyataan Sasti.

“Ya, aku sadar akan hal itu”, jawabku seringan kapas. Kembali aku mengahadap ke arah telaga.

“Bukankah hidup itu selalu dihadapkan pada pilihan, Sas? Trade off dan beragam risiko, ya kan?”

“Yap. Kalau kau sudah tahu kenapa nggak dihilangkan atau, paling nggak, ya diminimalisasi?”

“Menurutku, keluarga itu termasuk dalam kelompok inherent risk, hal itu akan tetap melekat meski kita melakukan berbagai cara untuk mengatasinya.”

“Tapi Lan, ingat tujuan awalmu saat daftar kuliah! Kita itu dipersiapkan untuk menjadi abdi negara, pelayan masyarakat. Bukan sebagai pencipta lapangan kerja!” suaranya parau tapi tetap tenang. Hanya saja tangan Sasti yang tadinya menggamit rumput kini beralih di atas tanganku. Mencengkeram kuat.

“Tujuanku tetap melayani negara kok. Bukankah suatu negara itu perlu minimal 2% wirausaha? Kecil memang, tapi aku ingin menjadi salah satu dari mereka.”

“Lan!”

“Hahaha… doakan saja ya, Sas. Oya, kalau villamu udah jadi, jangan lupa mention ya.”

“Mau apa kau di villa-ku?” katanya sambil nyengir kuda.

“Bersih-bersih lah….”

“Hahaha… bagus… bagus.”

“Bersih-bersih makanan maksudnya ya”, setelah habis kalimatku ini, langsung kutancap gas lari ke kamar. Malam mulai beranjak dan suhu tepar. Bulan belum mengintip dari kanvas langit, warna dasarnya belum terusik.

***

Calon pegawai di pemerintahan, siapa yang tak merinding jika mendengarnya? Apalagi jika barisan kata itu tersemat langsung di belakang panggilan kita. Ya, aku salah satunya.

Terdaftar sebagai mahasiswi tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi kedinasan.
Bukankah duduk di sini sudah menjadi impian bagi setiap yang muda? Dan aku bangga dengan pencapaian ini. Namun, jika suatu saat aku harus menanggalkannya, semoga tak menggandeng sesal. Bukan tanpa alasan aku menyematkan mimpi. Hanya ingin mengabdikan diri pada keluarga. Atas nama anak dan suami. Jangan sampai anakku kelak menjadi ‘Anak Pembantu’. Paling tidak, begitulah yang aku utarakan ke Sasti beberapa waktu silam.

“Tapi kenapa, Lan?”

“Karena aku sadar akan kodratku sebagai seorang wanita, Sas. Calon istri dan Ibu, itu tugas utamaku.”

Salam untuk Rian S. Andriana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s