Teknik Menulis Puisi

Polisindeton: termasuk dalam gaya bahasa retoris, yaitu beberapa kata, frasa, klausa berurutan dihubungkan satu sama lain oleh konjungsi. Secara sekilas, mirip dengan repetisi jika kebetulan konjungsi yg digunakan sama. Lihat contoh berikut.

Jembatan telah mengantar orang bukit
Menuju pasar menuju sawah menuju
Sekolah menuju jawaban yang ditanyakan
Seperti halnya air dan pasir yang mengalir
Dari hulu ke hilir melewati kota melewati
Nama-nama desa melewati seribu
Penyeberangan melewati ingatan
Menuju muara

Impresi: sesuai dengan namanya, impresi menekankan pada efek kesan, atau pengaruh yang dalam terhadap pikiran dan perasaan. Kesan atas efek yg diciptakan ini dipengaruhi oleh kerja indera. Selanjutnya, pikiran dan perasaan (pembaca) mengolahnya sesuai dengan konteks yang dimaksudkan. Sebagai contoh, indera visual: penyair menggambarkan imaji penglihatan atas benda atau peristiwa yang dilihatnya. Deskripsi atau narasi yang ditulisnya dibentuk sedemikian rupa (biasanya dengan bahasa sederhana-lugas), dan sekaligus diniatkan untuk mencapai maksud dan makna lain (tersirat). Lihat contoh puisi Sapardi Djoko Damono (Seekor Ulat) berikut.

Seekor ulat akhirnya mencapai sekuntum bunga lalu
berhenti di sana. Ia telah memakan beberapa lembar daun
muda di ranting itu, dan kini ia berada di atas sekuntum
bunga: ia pun diam…

Kata kunci bait pertama puisi tersebut (untuk menikmati/atau bahkan untuk memaknainya) adalah: sekuntum bunga; memakan beberapa lembar daun; ia pun diam. Sajak-sajak Sapardi sarat dengan teknik ini. Salah satu yang sangat saya sukai adalah “Berjalan ke Barat di Pagi Hari” dan “Peristiwa Pagi Tadi”.

Alusi: majas perbandingan yang merunjuk secara tidak langsung seorang tokoh atau peristiwa; kilatan. Tokoh atau peristiwa yang diacu diambil secara parsial, atau bahkan secara sekilas. Baiklah, untuk memahaminya, saya tunjukkan contoh puisi yang sangat terkenal, “Dongeng Sebelum Tidur”, karya Goenawan Mohamad. Agar pembaca bisa menikmatinya, maka sebelumnya pembaca harus faham seluk beluk kisah Anglingdarma. Tanpa memahami kisah tersebut, puisi menjadi sebuah karya yang setengah gagal dinikmati, atau bahkan gagal sama sekali. Puisi lain yang serupa, misalnya “Malam Tamansari”, karya Suminto A. Sayuti, “Celana Ibu”, karya Joko Pinurbo, dll.

Dongeng Sebelum Tidur

“Cicak itu, cintaku, bercerita tentang kita.
Yaitu nonsens.”

Itulah yang dikatakan baginda kepada permaisurinya, pada malam
itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap merayap antara sendi
dan sprei.

“Mengapa tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari
pagi.”

Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan kembali kain
ke dadanya dengan nafas yang dingin, meskipun ia mengecup
rambutnya.

Esok harinya permaisuri membunuh diri dalam api.

Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus melarikan
diri – dengan pertolongan dewa-dewa entah dari mana – untuk tidak
setia.

“Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku? Mengapa
harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari kehidupan dan sebagainya
dan sebagainya?”

1971

Dramatis: teknik penulisan puisi yang di dalamnya diciptakan sebuah cerita yang melibatkan konflik atau emosi. Dalam teknik ini elemen yang ada antara lain: tokoh, cerita/alur, konflik, dialog. Opening dan ending sangat berpengaruh terhadap efek yang diinginkan. Sifat-sifat teknik dramatis ini adalah mengesankan, meneror, mengejutkan, dan membuat penasaran (suspensif). Bacalah opening puisi “Zagreb” karya Goenawan Mohamad berikut, yang meneror dan menegangkan.

Ibu itu datang, membawa sebuah bungkusan, datang jauh dari Zagreb.
Ibu itu datang, membawa sebuah bungkusan, berisi sepotong kepala,
dan berkata kepada petugas imigrasi yang memeriksanya: “Ini anakku.”

Untuk ending, mari kita baca puisi “Dengan Kata Lain”, karya Joko Pinurbo berikut ini.

Dengan Kata Lain

Tiba di stasiun kereta, aku langsung cari ojek.
Entah nasib baik, entah nasib buruk, aku mendapat
tukang ojek yang, astaga, guru Sejarah-ku dulu.

“Wah, juragan dari Jakarta pulang kampung.”
beliau menyapa. Aku jadi malu dan salah tingkah.
“Bapak tidak berkeberatan mengantar saya ke rumah?”

Nyaman sekali rasanya diantar pulang Pak Guru
sampai tak terasa ojek sudah berhenti di depan rumah.
Ah, aku ingin kasih bayaran yang mengejutkan.
Dasar sial. Belum sempat kubuka dompet, beliau
sudah lebih dulu permisi lantas melesat begitu saja.

Di teras rumah Ayah sedang tekun membaca koran.
Koran tampak capek dibaca Ayah sampai huruf-hurufnya
berguguran ke lantai, berhamburan ke halaman.

Tak ada angin tak ada hujan, Ayah tiba-tiba
bangkit berdiri dan berseru padaku: “Dengan kata lain,
kamu tak akan pernah bisa membayar gurumu.”

(2004)

Anadiplosis: repetisi dengan mengulang kata atau frasa terakhir suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa atau kalimat berikutnya. Dua bait pertama puisi “Puake” karya Sutardji Calzoum Bachri di bawah adalah contohnya.

puan jadi celah
celah jadi sungai
sungai jadi muare
muare jadi perahu

perahu jadi buaye
buaye jadi puake
puake jadi pukau
pukau jadi mau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s