Setting/Latar

Pernahkah kita menyadari bahwa saya dan Anda telah terkondisikan dalam sebuah pola waktu dan juga tempat? Kapan dan dimana kita mengenal menjadi contoh kongkret bagaimana kita tidak pernah terlepas dari pola tersebut. Perpindahan waktu yang begitu cepat, disadari atau tidak, sebanding pula dengan perpindahan tempat. Misalnya, ketika kita bekerja atau kuliah pada pukul 8 pagi sampai 4 sore, bukankah kita telah berada pada tempat-tempat yang berbeda dan tidak hanya berada dalam sebuah tempat saja? Seorang sosiolog dari Inggris menyebut bahwa aktivitas kita selalu berada dalam konvergensi waktu dan tempat (time-space convergence). Bahkan, jika kita periksa bagaimana kita atau orang tua kita membangun rumah, maka kita dapat melihat bahwa antara dapur dan kamar tidur, fungsinya sudah diatur berdasarkan waktu. Dapur lebih banyak dipergunakan pada pagi atau siang hari, sementara kamar tidur pada malam hari. Goffman menyebut hal ini sebagai regionalisasi (regionalization). Pada masyarakat modern seperti yang kita alami hari ini, tidak dapat dipungkiri bahwa segala aktivitas sangat dipengaruhi oleh clock time (waktu berdasarkan jam). Tanpa jam dan waktu kegiatan yang tepat, masyarakat industri tidak pernah eksist. Hal ini terjadi sejak penghitungan waktu distandardkan melalui globe yang terbagi dalam 24 zona waktu pada tahun 1884 di Washington.

 

Jika kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kata setting itu dapat diartikan sebagai latar. Secara filosofis, kata latar ini memang merupakan sebuah konsep yang seringkali tidak dapat dijelaskan dengan mudah. Namun, dalam pembicaraan kita kali ini, sudut pandang filsafat kita tunda terlebih dulu(kita mau bicara latar dalam teknis menulis cerita). Dalam khazanah teori sastra, latar merupakan arena atau panggung dimana kejadian dan para tokoh bertindak. Secara teoritis, latar ini dibedakan menjadi tiga: latar tempat, latar waktu, dan latar sosial.

 

Latar tempat menunjukkan tempat atau ruang dimana cerita itu terjadi. Latar waktu menunjukkan kapan cerita itu terjadi. Dalam cerita, latar waktu ini bisa saja dirancang menjadi 3 bagian: waktu eksplisit, waktu implisit, dan gabungan antara waktu eksplisit dan waktu implisit. Waktu eksplisit menunjukkan dengan jelas bahwa cerita terjadi pada tahun, bulan, tanggal, hari, jam, menit, detik, pagi, atau malam tertentu. Misalnya, untuk menceritakan bahwa cerita ini terjadi setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Anda bisa saja menyatakan begini: “18 Agustus 1945, aku dan keluargaku masih terperangkap di bunker Jepang. Seingatku sudah 12 jam kami terjebak di sini. Menghindari amarah si jago merah yang tiba-tiba menyambar kompleks ini.”

 

Sementara itu, waktu implisit memiliki perbedaan dengan waktu eksplisit. Waktu implisit tidak menunjukkan dengan jelas kapan peristiwa yang diceritakan terjadi. Di sini, akal sehat memiliki peranan yang cukup penting.

 

Latar sosial berhubungan dengan sistem politik, ekonomi, budaya, keagamaan yang diandaikan dalam cerita. Latar sosial ini dapat ditunjukkan secara kongkret melalui deskripsi pakaian tokoh, bahasa yang dipergunakannya, film apa yang ditontonnya, atau makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh sang tokoh.

 

Dari penjelasan di atas, kita dapat semakin menyadari bahwa secara sosial manusia tidak pernah dapat melepaskan dirinya dari waktu dan tempat. Hubungan demikian pun terjadi dalam cerita. Keberadaan dan karakter seorang tokoh tidak terlepaskan dari waktu dan tempat ia bertindak. Sangat sulit untuk membayangkan seorang tokoh yang akan kita ceritakan jika unsur waktu dan tempat tidak diikutsertakan. Bahkan untuk sebuah genre prosa yang bernama nouveau roman sekalipun, yang anti-tokoh, seperti yang terlihat pada beberapa novel dari Iwan Simatupang, waktu dan tempat tetap masih terbayang.

 

Semisal 30 Hari Mencari Cinta, sebenarnya memberikan penjelasan yang sangat menarik mengenai hal ini. Bagi saya, buku ini dapat menjadi “panutan” (oops, bukan mau berpromosi!) bagaimana gerak para tokoh cerita tidak terlepaskan dari latar waktu dan tempat. Semacam ada obsesi yang hidup antara tokoh dengan kedua latar tersebut. Bahkan dari judulnya pun, kita sudah dapat melihat bahwa latar waktu memegang peranan sentral dalam pembentukan karakter, ideologi, dan tingkah laku tokoh-tokohnya. Kuncinya di sini adalah bahasa yang dipergunakan dalam cerita itu sendiri. Dalam cerita atau narasi itu, problem waktu sebanyak 30 hari tidak diselesaikan dengan renungan-renungan spekulatif sebagaimana dicoba dalam filsafat, melainkan secara poetis, secara bahasa. Maka, kita tidak perlu membaca novel 30 Hari Mencari Cinta dalam waktu 30 hari juga, khan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s