Cahayanya Mendekat

Sosok itu masih terayun hingga fajar menyapa dari balik dedaunan. Ia sendirian. Hanya berkawan dingin yang menjelaga. Tak ada senyum di sana. Sepertinya telah direnggut kelam yang meraja. Disuruhnya menyerahkan upeti bahagia, lalu kelam pun bercerita.

Ia baru berteman hangat tatkala sinar mentari sukses menerobos gelap. Langsung saja, sepi terusir dari sana. Riuh, semakin ramai saja. Seolah, sosok itu bagai magnet bagi yang mendengarnya. Makin banyak saja penduduk yang berkumpul di sekitar ayunan itu. Sampai-sampai pemuka adat dan kepala desa hadir.

“Apa yang terjadi di sini sebenarnya?” tanya Pak Lurah.

“Itu lho, Pak, Nduk Siti… Nduk Siti…,” jerit Mak Minah sambil meraung.

“Mari, Pak. Lewat sini, “ Pak Udin pun berusaha menyingkap tudung manusia di lokasi ayunan itu. saat ini, hampir seluruh warga Desa Jurang Jero, Gunung Kidul,  berkumpul di sana. Melihat Siti terayun, kaku.

“Oalah, Nduk. Kenapa kamu sampai berbuat seperti ini? Apa nggak kasihan sama Bapak dan Ibumu ini?” ratap Bu Jum di kaki anaknya. Belum ada yang berani menurunkan Siti dari atas sana. Takut kualat!

“Sabar, Bu. Nyebut sama Gusti Allah, “Bu Asih menengahi. Berusaha menyabarkan tetangga depan rumahnya.

“Tapi, Bu…. Siti… anakku.”

“Sudah, sudah. Kalian bisa menurunkan Siti sekarang. Dia sudah saya doakan. Oya, seperti biasa, pemakamannya harus hari ini!” kata pemuka adat panjang.

“Oalah, Nduk… Nduk….”

Begitulah, tubuh Siti yang terayun pun mulai diturunkan dari pohon asem. Mukanya sudah pucat. Lehernya pun sebiru tali yang membelit. Dingin pagi masih membekap tubuh mungilnya. Siti, gadis desa yang mulai harum. Namun kini tiba-tib a layu. Mahkotanya rontok dalam sekali tiupan angin pagi.

Desa yang biasanya sunyi dalam diam, kini ramai. Satu-satunya jalan masuk berupa pematang sawah pun mendadak macet oleh kaki-kaki telanjang warga dsa sebelah. Membawa sejumlah debu yang sama. Desus warga pun membahana di angin kemarau. Menerbangkan ilalang kering yang dehidrasi. Mereka melayang bersama lirikan-lirikan kotor. Mencibir mayat yang tak lagi bisa protes.

“Ibu-ibu semalam liat pulung gantung yang terbang ke arah selatan nggak?” tanya seorang pelayat.

“Oh, semalam ada ya? Jadi Siti gantung diri gara-gara itu? kalau semalam ke arah selatan, biasanya kan langsung beralih ke barat, Bu.”

“Saya juga berpikiran seperti itu, Bu. Semoga dia tak meminta korban dari desa ini lagi.”

Perekonomian yang sulit membuat warga miskin ini smakin miskin akan pengeahuan. Mitos yang membelenggu dan belum adanya gebrakan-gebrakan untuk mendobrak tembok tebal tersebut. Hanya Ki Secang yang tak mempercayai mitos itu. ia hanya diam di sudut. Tak banyak orang yang ada di sekitarnya. Beliau memang dikenal sebagai orang tua yang menyebalkan. Selalu menganggap pendapatnya selalu benar. Susah dikritik.

Pun dengan cerita-cerita yang menurutnya tak bernalar itu. pandangannya sellau sinis saat Beliau mendengarnya. Menganggap semua tu di luar logika. Lalu disangkutpautkan dengan modernisasi.

Namun, bagi penduduk yang dikelilingi ilalang tandus dan batu kapur itu tetap menganggap mitos sebagai kekuatan lain dari alam yang perlu dihormati. Kalau tidak, maka siap-siap saja menerima tamu yang tak disangka, layaknya Siti. Itulah sebab, tak ada yang berani dekat-dekat dengan Ki Secang. Takut kualat.

Pemakaman pun berjalan normal,seperti biasa yang mereka lakukan jika ada ‘korban’. Tak ada doa yang membahana. Hanya suara sepi yang dimengerti oleh hati dan Tuhan mereka sendiri. Sosok yang tadi pagi terayun kini tak lagi terlihat. Tertutup rapat di dasar kehidupan.

Setelah peristiwa itu Ki Secang tetap setia dengan korannya. Mengamati dunia modern yang sangat ia puja. Ingatannya melanglang menyusuri setiap sudut  jalan kota. Melihat akar-akar gedung dan irama klakson kendaraan. Ki Secang tersentak saat ingatan membawanya pada mendiang sang istri dan mengharuskannya menetap di desa ilalang ini.

Senja kembali menyapa untuk yang kesekian kali. Ki Secang masih menetapkan diri di bawah tarian gemulai Dewi Malam. Mengutuki dirinya dan mitos-mitos itu. kenapa mereka harus bertemu?

Masih dalam posisi semula, bangganya saat melihat melihat pendar manja bintang. Salah satunya terlihat mendekat. Semula, senyumnya makin mengembang semi. Namun, kopi dalam tangannya terlihat bergetar. Pun dengan senyumnya yang menghilang. Bintangnya mulai mendekat, melewati atap rumahnya.

“Bukankah aku tinggal sendirian di rumah ini?” lirihnya.

Isyarat kematian itu selau datang tanpa permisi. Tiba-tiba dan tak berbelas kasih.

 

Bintaro, 22 Oktober 2012

Aila Nadari

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s