Senyawa Daun

“Sebuah pohon berbatang lebar telah mendahului kami menempati daerah ini,” kata Opung suatu malam. Pohon itu cukup keramat. Banyak tanda yang diberikannya pada kami. Paling tidak, itulah yang kami lihat. Konon, pohon itu meminta korban untuk dipersembahkan padanya. Dia sendiri yang akan memilih calon korbannya.”

“Suatu hari, daun kuning di tepi dahannya luruh. Padahal tak pernah sekalipun kami temui guguran dedaunan di sana. Selalu saja bersih. Keesokan harinya, Datuk meninggal. Jika ada daun hijau yang jatuh, bisa dipastikan jika korbannya adalah remaja atau anak-anak. Begitu seterusnya,” tambah Inang. Setiap ada daun yang jatuh, penduduk desa dicekam kekhawatiran. Kira-kira, siapa yang akan jadi korban.”

Aku terpaku dalam bilik bambu di pojok ruang. Merenungi cerita yang kuanggap ngeri. Sangat. Selintas membayangkan sebuah daun gugur tertiup angin yang nakal. Kemudian terjadi petaka yang tak disangka.

Nyawa yang hilang, pasti sejumlah daun yang jatuh.

Malam berlalu, dihembus badai sekaligus petir yang menderu. Aku hanya bisa meringkuk di balik selimut usang berlapuk mimpi. Berharap esok hari tak ada daun yang jatuh. Malam menua bersama keriputnya. Badai tak jua pamit pada langit pun dengan pohon besar. Alunnya masih saja mengajak sang pohon bergoyang. Kurasakan itu dari musik ranting yang bergesekan. Menyayat meski indah. Harapku masih sama.

Sejenak, aku tenggelam dalam mimpi kelam yang menjelaga. Bersyukur bisa terlelap di tengah dentum suara alam dan goyangan yang tak beraturan. Kututup hari dalam doa yang membahana.

Pagi yang rapi. Kutengok mentari terik di sudut cakrawala. Semangatnya sigap mengahalau iringan awan yang mendekat. Seolah tak mau cahayanya tersingkap. Angin pun tenang setelah semalaman berkelebat di rumpun sunyi. Aku terantuk keingintahuan desa. Apa kabar setelah semalaman mendoa diam?

Terkaget setelah melangkahkan kaki melewati pematang. Banyak badan tumbang dan tertanam. Kakiku mengajak berlari dalam panik. Di benak, hanya ada rupa Opung dan Inang. Bagaimana nasib mereka?

Semakin banyak saja tubuh yang tergolek di jalan-jalan. Rumah Opung juga sepi. Kudobrak pintu lalu berlari. Mataku nanar. Dua orang yang kusayang  telah terpisah dari raganya. Hanya bisa meraung dalam kesendirian.

Lalu kuberlari ke arah pohon besar di tengah desa. Terseok oleh bangkai-bangkai tak terpelihara. Napasku berat saat melihat hanya ada satu daun yang tersisa di sana. Hampir jatuh. Senjaku masih lama.

 

Bintaro, 16 Oktober 2012

Aila Nadari

One thought on “Senyawa Daun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s