Masih Maukah Kau Jadi Bintang Utaraku?

“Tunggu aku pulang”, kataku pada Zu di peron Stasiun Tugu, Yogyakarta, dua minggu yang lalu. Aku memang harus pergi, lagi. Kuliah yang telah mengagenda rapi mengharuskanku melepas jabatan tangannya. Meski baru sebulan kami kembali bertemu.

Ya, kami memang long distance. Sudah hampir tiga tahun ini kami menjalani komitmen. Memang, hal yang teramat sulit. Tapi mimpi indah yang kami bangun selama ini akan berbuah manis, suatu hari nanti. Kami yakin itu.

Kulihat anggukkan kepalanya mantap. Menguatkanku untuk segera menuntaskan kewajiban belajar yang tinggal dua semester lagi. Tatapan mata itu, ah, aku akan sangat merindukannya lagi, untuk yang kesekian ribu kali. Sorot mata yang tajam. Langsung menghunus ke ulu hati. Menancap di sana. Bersama harapan-harapan manis.

Senyum itu pun menjadi bingkisan tersendiri yang akan kubawa pergi. Sebagai saku di tanah rantau. Kubungkus paket itu, rapi. Dengan pita tercantik yang kupunya. Dengan semat ucapan yang takkan habis untuk dibaca. Pun dengan simpul teristimewa.

Kulepas genggam tangannya. Lalu kusongsong gerbong panjang yang telah menanti para penumpang. Jakarta, tunggu aku datang! Kan kusemai mimpi dalam dekapmu. Hangat.

“Jaga diri disana. Jaga hatiku pula”, begitu pesan singkatnya lewat nada dering ponsel. Aku langsung mengiyakan.

“Begitu pula denganku. Masih kutitipkan hatiku padamu. Tolong rawat ia.”

“Hati-hati juga dengan orang-orang yang suka sama kamu. Aku merasa down sama mereka. Apalagi salah satunya udah general manager.”

 

“Tenang ya, sama-sama memperbaiki diri aja. Masih yakin dengan komitmen dan mimpi-mimpi kita, kan? Tolong rawat mereka.”

“Iya. Kamu juga. Hati-hati di jalan, Thea.”

***

Lima hari di sini, kota tempatku menimba ilmu, modal hidup. Segalanya berjalan sesuai norma, batasan, dan pagar yang kubuat. Masihku hingar dalam cawan atas nama kerinduan sahabat yang sebulan tak ada jumpa.

Masih pagi saat gelegar petir itu menyeruak dengan nada ponsel yang kemarin.

“Kemarin aku dikasih liat hasil presentasi teman tentang hacker. Dia bisa membobol fb-ku dan punya adik-adik. Kagetlah aku. Pas dia salat, iseng kubuka fb-mu. Lalu kubuka private massage, tak kusangka isinya seperti itu”, tulisnya panjang. Tersentaklah aku membacanya. Kukira kami masih menghormati daerah privasi masing-masing.

“Maksudmu? Pesan yang mana? Sama siapa?” balasku lekas.

“Arvin.”

Langsung saja kuakses fb. Menilik pesan yang dia sebut tadi. Menekuri kata demi makna.

“Apa ada yang aneh menurutmu? Bukankah itu dialog yang biasa, antara sahabat karib? Apa yang kau permasalahkan?”

“Apa, katamu? Coba baca semua ajakan itu! Dia meneleponmu berulang kali, kan?”

“Ya, memang kuakui adanya ajakan-ajakan dan video call  itu. Tapi tak pernah kuiyakan. Apa kau menemukan

persetujuanku untuk diajaknya pergi? Video call itu juga tak pernah kujawab!”

“Tapi….”

“Apa? Kau terlalu possessive sekarang. Sangat. Tak ubahnya seperti Papa yang mau kuhindari untuk beberapa saat.”

“Aku memang possessive, terlebih sama cewek yang kusayangi. Apa itu salah?”

“Aku menyalahkan keterlaluanmu. Aku tak suka. Tegakah kau menjauhkanku dengan sahabat-sahabat karibku, keluarga kecilku?”

I worried you. Aku terlanjur sayang sama kamu. Tak mau kandas. Apa kamu mau kejadian seperti itu terjadi gara-gara teman-teman kita?”

“Aku pun tak mau. Tapi cobalah positive thinking.”

 

Positive thinking? Bagaimana bisa dalam kondisi seperti itu?”

“Cobalah untuk menata hati. Jaga emosimu. Toh aku di sini pun punya pagar, pembatas, norma. Apalagi dengan komitmen kita. Aku tak main-main dengan hal itu.”

“Tapi, cobalah mengerti perasaanku.”

“Aku sudah berusaha. Sekarang apa yang kau mau?”

“Jauhi mereka, orang-orang yang ada sinyal suka padamu. Dan aku perlu bukti yang bisa kulihat setiap waktu.”

“Caranya? Bukankah itu semua perlu proses?”

“Pikirkan! Aku mau yang instan.”

What? Aku perlu waktu.”

“Tapi aku memaksa.”

Lama tak kubalas pesannya. Aku menangis dalam bilik tak terkunci. Lekas kuambil wudhu dan salat. Aku mau mengadu. Dengan bahasa pribadi, dengan-Nya.

“Aku mau sendiri. Tanpamu. Untuk beberapa waktu.”

“Tapi nanti aku kesepian”, ucapnya.

“Kau kan ada Zia yang selalu SMS. Tak mungkin kau kesepian di sana.”

“Sudah kubilang kamu hanya cemburu.”

“Kalau aku cemburu, terus kau apa?” bentakku dalam hati. Aku tak kuat. Kubekap bantal rapat-rapat. Kulempar Chioo dan Mypo, boneka pemberiannya, ke pojok kamar. Aku meraung dengan suara yang hanya kumengerti sendiri.

Matahari sudah tak nampak. Malam kali ini sungguh kejam. Bulan pun tiada. Kubuang bintang di ujung kelam. Kuredupkan cahayanya dengan siraman emosi. Tiba-tiba aku tak mau mengingat namanya lagi. Bukannya lelah aku berhenti memikirkannya. Hanya tak mau menyakiti diriku lebih dalam lagi.

Lalu jejak-jejaknya hilang tiada berbekas. Kecuali serpihan sisa kenangan yang tergenggam. Dia memudar. Dan aku pun berlalu. Tertelan mendung yang melegam.

***

Dua malam kemudian, di bawah hamparan sawah langit yang gelap.

“Ya udah, The. Tak apa. Asal kamu bisa baikan lagi sama Si Zu ya”, kata Kak Arvin singkat.

Aku hanya bisa tertunduk lesu. Kawan yang selama ini bisa jadi sosok Kakak ternyata harus terlepas. Kutekuri lantai. Mencoba mencari keramik yang retak. Tapi tak ada di sana. Semuanya normal. Sempurna tiada cacat. Hampir menangis sebenarnya, tapi aku sudah berniat untuk tak lagi mengeluarkan air mata. Bukankah wanita diciptakan untuk tegar? Dan aku setuju dengan hal itu.

“Sudahlah,The. Tetap semangat ya. Kau tetap jadi Adikku kok.” Kulihat senyumnya mengembang di sana. “Pokoknya kau tak boleh lagi nangis, sedih, apalagi galau. Kau kan bukan lagi cewek galau 2012. Ok.”

“Iya, Kak. Bintang tak hanya satu kok di langit Anthea. Oh ya, aku udah cerita belum kalau Pak Yan tuh katanya udah mantap sama Thea buat dijodohin sama anaknya. Trus tinggal nunggu waktunya aja buat ketemuan.”

“Kata siapa?”

“Bapak yang jual pecel lele dekat kost Thea itu. Trus kemarin malam aku sudah ketemu sama dia. Meski tak sengaja papasan. Dan kami langsung kenalan.”

“Cie… berarti udah kenal dong nih. Wah wah…. Cakep tak? Yang general manager itu kan?”

“Entah. Kami Cuma ngobrol bentar. Trus Thea pergi deh. Kan sudah janjian sama kawan. Malu ih.”

Dalam hingar kerdip bintang di langit kelam, kuteruskan menjahit kata dengannya. Sepenggal waktu, kulirik satu bintang, Bintang Utara, bagai menyibak awan gemawan yang antre rapi membentuk liatan. Seolah ada lukis senyum Zu di sana. Aku rindu candanya.

Lihat, betapa banyak bintang di atas sana. Pikirkan mengapa aku masih mempertahankan cahayamu. Melihatmu erat.

***

Tiga hari berlalu sejak perang itu. aku masih mencoba menggambar ulang di langit-langit kamar. Hampir tiga tahun komitmen ini terucap. Tak singkat. Sudah banyak yang telah kami lalui bersama. Apalagi dengan hubungan yang long distance ini. Memang bukan suatu hal yang mustahil jika terjadi percikan api.

Apalagi kesanggupannya untuk menungguku pulang. Dua tahun sudah kuliahku dan masih ada setahun lagi. Tak banyak cowok yang bisa sesabar itu. Fakta pun bicara, 97% pasangan long distance pasti tercerabut dari tanah. Sudah lama aku memantapkan hati untuk bergabung di bagian yang minoritas. Kulirik ponsel. Ada gambarnya di wallpaper-ku.

“Zu, aku berharap kau masih mau jadi Bintang Utaraku. dengan cahaya yang lebih menghangat. Tak sepongah dulu”, kukirim pesanku padanya. Berharap tak lagi panas.

“Ya, me too. May I?Luv U, Thea”, balasnya.

Bila kegagalan bagai hujan. Dan keberhasilan bagai mentari. Maka dibutuhkan keduanya untuk melihat pelangi.

Bintaro
Aila Nadari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s