Gendhing Hujan

Gerimis kali ini memang benar-benar menjemput gelap. Cahaya lampu pun seakan tak mampu menembus pekatnya. Seolah rumah ini benar-benar dikurung dalam sebuah cawan besar bernama kehampaan.

Wia tengah mencuci di lantai teratas kost-nya. Bukan karena dia malas berpanas ria, hanya saja akhir-akhir ini dia sangat sibuk dengan urusan ukm-ya. Untng saja ada atap yang menghalau hujan. Jika tidak, dia harus rela cuciannya terkena air ekstra.

Musim basah memang tengah mendekati puncak. Kilat dan petir saling sahut mngiringi irama tumpahan air. Menambah tegaknya bulu roma. Masih dengan cuciannya, Wia masih asyik berkutat dengan busa. Tak bisa diganggunya dengan berisik petir karena telinganya sdah disumpat dengan musik galau masa kini. Kepalanya maju-mundur mengikuti irama. Wia tak tahu jika ada sekelebat bayang yang mengamatinya dari pojok ruang.

Kilat yang diberikan alam seakan memperjelas sosok itu. ia makin dekat ke arah pintu sambil tertawa perlahan.

“Wia… Wia… hihihi….”

Wia hanya celingukan. Dia merasa mendengar namanya dipanggil meski musik dan petir terus berdendang. Namun, tak lama dia kembali asyik dengan cuciannya. Suara itu kembali terulang. Disusul dengan padamnya listrik dan mp3 miliknya. Kaget. Ia mulai bergerak. Berjalan pelan ke arah pintu. Mendekati sosok yang masih mematung di sana.

Lingsir wengi, sepi durung bisa nendra….

Sayup-sayup terdengar alunan gamelan. Suara yang asing di telinganya. Wia memastikan kembali jika mp3-nya benar-benar telah mati. Saat melewati pintu, dirasakannya hangat di bagian tengkuk, padahal udara tengah dingin. Dia tak tahu jika sebuah tangan tua tengah mngelus tengkuknya, lembut.

Wia berusaha menepis perasaan itu, ia tak percaya takhayul. Meski sebenarnya, tubuhnya sudah gemetar. Kakinya berat untuk sekadar melangkah. Keringatnya mendingin….

Wia berhasil menemukan ponselnya. Lalu menyalakan senter meski harus terseok. Perasannya makin tak karuan. Deak jantungnya menyeruak namun napasnya tenggelam. Wia berusaha menguatkan hati apalagi dia hanya sendiri di rumah besar itu.

Wia hanya bisa meringkuk ditemani sayup suara gamelan tadi. Kilat dan petir masih saja memainkan iramanya. Dan hujan tetap memperderas diri. terdengar langkah kaki di tangga. Ah, akhirnya Mbak Lue pulang juga. Lama juga pendakiannya.

Lalu suara gamelan tadi, kembali hadir meski semakin senyap dan hampir menghilang dari peradaban hujan. Kilat dan petir masih setia. Listrik belum menyala. Wia masih berada di posisi semula.

Tiga kali kilat menyambar. Angin masih menderu. Bayangan hitam tadi masih berputar-putar di lantai atas. Tanpa sepengetahuan Wia, tentu saja. Sedangkan dia belum juga mengubah posisi duduknya.

Kilat keempat disusul engan suara petir dengan volume  tinggi. Lalu listrik menyala. Dan langkah kaki kembali terdengar setelah derit pintu. Wia pun berlari menuruni tangga. Di hadapannya, Mbak Lue, kuyup.

“Lho, bukannya Mbak tadi udah pulang?”

“Tadi? Baru juga sampai kost-an.”

***

Ingatlah saat suaranya dekat berarti dia jauh. Saat suaranya jauh, berarti dia tengah dekat dengan kita.

 

Bintaro, 11 Okt 2012

Aila Nadari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s