Zea

“Kamu sakit, Nak?” tanya Bu Eni di sela pelajarannya.

Dia hanya menggeleng. Masih tetap menunduk seolah menyembunyikan bola matanya yang putih.

“Tapi kamu terlihat pucat sekali. Tubuhmu pun dingin.”

“Tak apa, Bu. Saya masih mau di sini,” katanya pelan.

“Ibu ngomong apa? Kami tak tak dengar,” tanya Ian dari pojok ruang kelas.

“Eh, tak ada. Mari kita lanjutkan pembahasan soal. Sampai di mana kita tadi?”

***

“Bu Eni, mari berangkat. Kita sudah ditunggu rombongan,” ajak Bu Lena.

“Bu, boleh saya tanya selaku gru baru di sekolah ini?”

“Ya, ada apa, Bu Eni?”

“Siapa siswi yang akan kita doakan nanti?”

“Zea, begitu ia dipanggil. Salah satu siswi aktif di sekolah kita ini. Dia korban kecelakaan tepat setahun yang lalu. Lawannya truk. Ia tewas mengenaskan, kepalanya pecah. Ia masih mengenakan seragam sekolah saat kejadian. Sedih jika mengingat ia tewas sebelum membawa pulang ijazahnya….”

“Bu, apakah Zea berkerudung dan mempunyai lesung pipi di sebelah kanan?”

“Ya, bagaimana Ibu tahu? Bukankah Ibu belum pernah bertemu dengannya?”

Karena dia tengah berdiri di depan kelasnya sekarang. Tersenyum manis tepat ke arahku. Kubisikkan gemetar itu dalam hati.

“Mari Bu, berangkat sekarang.”

***

Kulihat gadis pucat itu masih duduk di bangkunya. Mengerjakan soal. Sekilas kulirik namanya, Zea Ramadhani.

 

Bintaro, 021012

Aila Nadari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s