Ze, Bukan Dirinya

“Hai Ze,” sapaku ramah di simpang yang sepi. Aku tengah berjalan sendiri menembus remangnya pekat sepulang dari kost-an teman. Tapi tak jua ada jawab darinya. Tatapannya kosong dan terus saja melanjutkan langkah.

Masak Zeena tak melihatku? Padahal kan cuma ada kami berdua di simpangan ini. Atau dia lagi buru-buru? Tapi ini kan udah malem. Entahlah. Biar besok kutanya di kost. Kulanjutkan perjalanan berteman sepi yang meramaikan diri.

Di Kost, esok hari

“Semalam mau ke mana, Ze? Kusapa di simpangan kok tak ada balas?”

“Semalam? Di simpangan?”

“Iya, aku melihatmu jalan sendirian.”

“Tapi semalam aku tidur lebih awal. Lagipula seharian aku gak keluar kost-an.”

“Trus yang semalem itu?”

“Bukankah di daerah situ emang ada cerita-cerita seram, ya? Kadang kan ada penampakan gitu yang menyerupai orang yang kita kenal,” sahut Shu dari sudut meja.

“Ih, kok serem sih?” Ze menimpali.

“Itu masih lebih baik daripada kamu yang disapa sama ‘dia’. Kalau sampai kejadian kayak gitu trus kamu menyahut atau menjawab panggilannya, bisa-bisa kamu jadi korbannya.”

Aku tersentak. Napasku satu-satu. Tak terbayang  jika Ze yang semalam kujumpai ternyata bukan dirinya.

Bintaro, 021012
Aila Nadari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s