Pantai Pok Tunggal, Alunan Musik Alam yang Baru

Mungkin kalian belum pernah (atau bahkan tidak pernah) mendengar nama pantai yang satu ini. Banyak faktor memang. Mungkin karena pantai ini baru dibuka sekitar empat bulan, jalannya pun masih ndeso, berbatu kapur dan berkelok. Sama seperti jalan mau ke ladang di daerah pinggir Gunung Kidul.

Pantai ini terletak di Kecamatan Tepus, Gunung Kidul, Yogyakarta. Sekitar 1 kilometer dari Pantai Indrayanti. Lebih tepatnya sebelum portal restribusi dari pintu masuk sebelah timur. Lokasinya yang masih “tersembunyi” seakan menantang nyali para pelancong yang awalnya pasti hanya penasaran ingin lihat.

papan nama sederhana yang sangat saya curgai

Awalnya kita disuguhi papan nama sederhana yang terbuat dari kayu. Bertuliskan putih, 1 km Pantai Pok Tunggal. Pastilah penasaran tentangnya. Ikuti saja jalan seadanya itu, karena menurut cerita warga jalan tersebut baru akan diaspal oleh pemda tahun mendatang. Memang harus perlu pengorbanan dan kerja keras untuk menghabiskan jalan.

Kita pun harus ekstra sabar untuk menahan sakit punggung dan pantat. Bagaimana tidak? Seolah-olah ban motor pun berkelahi dengan bebatuan padas dan kapur yang runcing. Jalan yang benar-benar masih alami itu bahkan menurut saya lebih dari satu kilometer. Saya curiga jika masih ada satu digit angka yang tersembunyi di belakang angka satu tadi. Bahkan di tengah jalan pun kami harus bertanya pada penduduk setempat untk memastikan bahwa jalan yang kami lalui ini benar mengarah ke Pantai Pok Tunggal.

Namun, tak usah bosan dengan pemandangan yang akan Anda lihat di sepanjang kanan-kiri jalan. Ladang yang mulai menghijau dan gua-gua batu pun menjadi wahana mata tersendiri untuk menikmati adrenalinnya. Bukit karang yang angkuh kokoh berdiri menatap para petani yang tengah menanam palawija. Tanah merah pun tak ketinggalan menyapa wisatawan. Begitu juga dengan gaplek yang rapi berbaris di bawah sinar matahari.

Aroma asin pun mulai singgah. Menghaturkan rasa nyaman dan kangen bagi sebagian orang, termasuk saya. Sudah tergambar dalam pelupuk mata, tak lagi lama untuk bercengkerama dengan ombak dan pasir putihnya. Dari kejauhan pun mulai terlihat cakrawala dengan mahkota birunya.

Benar-benar tak terduga. Awalnya yang hanya disuguhi jalanan terjal ternyata kami pun akhirnya sampai di surga tersembunyi. Pantai landai berpasir putih ini sungguh nyaman dipandang. Tak menyesal telah bersakit-sakit tadi. Mata pun menyusuri silau indahnya pantai. Dari ujung ke ujung. Dari atas karang hingga bawah airnya. Bersih.

Sasaran pertama pandangan adalah pohon yang langsung menarik mata. Seolah menjadi magnet tersendiri untuk ajang narsis. Karena tadinya salah ambil sepatu, alhasil saya langsung menentengnya. Panas memang. Tapi pasir yang berusaha menghindar saat diinjak tuh menimbulkan rasa geli yang aneh. Tak bisa ditawar. Dan saya menyukainya!

narsis di bawah pohon sama Ochman

Ketika ombak bertemu dengan karang, bukankah itu musik alam yang menawan?

Kalau Anda berkunjung saat air tengah surut, silahkan menikmati hamparan ladang rumput laut yang membentang. Ikan-ikan kecil yang berseliweran pun seakan mengucap salam. Pun dengan karang-karang yang menjulang, sepertinya mereka sangat ingin diajak narsis di depan kamera.

di bawah karang sama ochman

Jangan sungkan untuk memanjat karang-karang itu. Meski berat karena tajam ujung-ujungnya. Namun takkan pernah kalian sadari betapa pemandangan lain dari sudut pandang yang berbeda akan kalian saksikan.

Tahukah kalian? Di sini juga ada sumber mata air tawar yang biasa digunakan oleh penduduk. Bermodal kepo, ternyata sumber mata air itu adalah satu-satunya di kawasan pantai. Tak heran jika dihormati. Terlihat dengan adanya kain mori yang membelit pohon dan sesajen yang digantung.

Jika kalian ingin berkunjung kemari, jangan lupa bawa bekal secukupnya. Karena belum banyak warung di sini. apalagi air minum atau semacamnya.

Selamat datang di salah satu pantai di kawasan Gunung Kidul, Yogyakarta. Sebelum kalian mengaguni keindahan negara lain. Kagumilah negara sendiri, meski hanya lewat pariwisatanya.