Ken Arok #1

Seorang anak tentulah berasal dari rahim ibu. jadi sebelum ai cerita tentang Ken Arok, bisa lah ya nyeritain dikit tentang ibunya….

Awal cerita dari desa Pangkur. Nama aslinya adalah Astia. Gadis desa manis yang menjadi dambaan lelaki di sana. Meski baru 12 tahun usianya, namun tak hanya para bujang yang meliriknya. lelaki yang beristri pun akan langsung menoleh jika Astia berada pada jarak pandangnya.

Masih sangatlah muda ia kala itu. namun sudah banyak saja pinangan yang ia terima. Tai agaknya Astia kecil belum mau diikat oleh sebuah hubungan. Ia tolak segala lamaran yang mengetuk rumah. Dan akhirnya, jatuhlah pinangannya pada Resi Agung Sri Yogiswara Girinata yang telah lanjut usia.

singkat cerita, Sang Resi Agung ini telah ditinggal mati istrinya kala mempertahankan kehormatannya. Lalu Beliau melihat sebagian jiwa mendiang istrinya pada diri Astia. Lamaran pun diterima. Naiklah kasta Astia menjadi istri Brahmana. Sungguh status yang sangat diimpikan setiap wanita.

Hingga tiba tahun ke-10 pernihakan mereka, tak pernah disentuhnya Astia yang berubah nama menjadi Endok. Hanya bisa bergejolak dan kemudian terduduk pasrah. menunggu entah sampai kapan. Sebenarnya Endok telah meminta hal itu pada suaminya, dengan kode atau terang-terangan. Tapi tetap saja Sang Resi tak bergeming. “Kendalikan nafsumu, Istriku”, katanya.

Setiap pagi, Endok mengantarkan sesajen ke pura. Bersembahyang ia di sana. Tapi suatu hari kakinya terkilir dan ia pun jatuh terjerembab. tak bisa digerakkan badannya. Padahal Hujan mulai turun. Deras.  Endok pun masih dalam posisi awal, tak bisa ke mana pun. Meski hanya berteduh.

Sudah hampir habis suaranya untuk berteriak minta tolong. tapi suaranya tertelan hujan yang menggila. tak seorang pun mendengarnya. Lalu lewatlah seorang pemuda gagah, meski sudra.  Sopan tingkah lakunya. Lembut tutur katanya. Endok jatuh cinta.

Ia pun membawa Endok ke gubugnya, menggendongnya. Berdesir dada Endok waktu itu. Ia tak tahu apa namanya. belum pernah ia merasakannya. Berdekatan dengan pria. Endok merasa nyaman yang tak terkira. ia berharap lama untuk sampai di rumah sang pria.

Nyi Colot, Ibunya segera mengganti baju Endok yang basah. Lalu membuatkan param untuk mengobati lukanya. Kemudian disambung oleh pemuda, yang kita panggil dengan Gajah Para, dengan pijatannya. Endok pun tertidur. Dan bingunglah gajah Para saat tahu bahwa Endok adalah istri sang Brahmana suci.

Namun akhirnya mereka berteman. Tak ada jarak di antara mereka. Tiap pagi, sebelum ke pura, Astia selalu bertandang ke rumah Gajah Para terlebih dahulu. Lalu Gajah Para akan mengantarnya. Karena terlalu sering bersama, timbullah rumor tak sedap antara Gajah para dan Endok. Gemparlah padepokan.

Endok pun diwanti-wanti suami agar tak terlalu dekat dengan pemuda itu. Karena mereka berdua seumuran, Sang Brahmana suci takut akan terjadi sesuatu di luar kendalinya.

Himbauan hanyalah angin lalu bagi Endok, yang penting ia senang. Makin dekatlah hubungan antara keduanya. Hingga suatu hari saat Endok ingin mengirim nasi untuk pujaan hatinya. Di tengah jalan lewatlah Dewa yang tengah berpatroli. Sang Dewa melihat kecantikan Endok. Lalu Dia berubah wujud menjadi Gajah Para, dan menidurinya!

Setelah selesai, Sang Dewa pun berpesan pada Endok agar tak dekat-dekat dengan suaminya,agar janin yang ada di rahim Endok tak “kotor”. Endok pun bingung. Galau. Tapi ia senang, janin dalam kandungannya adalah anak dari gajah Para, lelaki yang dicintainya.

Sampai di padepokan, Endok malah dipingit sama suaminya. Aduh, makin galau pula ia. Saat dipingit itu Endok demam tinggi karena tak bisa bertemu dengan gajah Para. Setelah diperiksa, terperanjatlah Sang Brahmana saat tahu bahwa Endok telah mengandung. Padahal mereka sama sekali belum melakukannya.

sang Brahmana pun memutuskan untuk bertapa. memohon petunjuk pada Sang Dewa. Saat suaminya pamit itulah, Endok pun menyusun strategi biar bisa lari dari padepokan. Agar bisa jumpa dengan gajah Para.

Tapi apa mau dikata, gajah Para tak mengakui janin dalam kandungannya itu adalah anaknya. Endok sedih. “Sepengecut itukah lelaki yang dicintainya?”

gajah Para pun mati saat mendekati Endok. Terbakar api yang keluar dari kemaluannya. Itulah pesan dari Sang Dewa tempo waktu.

karena malu, Endok pun mengungsi. ia lalu diangkat anak sama seorang tabib. hampir puncak kandungannya tatkala Endok berniat ingin mudik ke Pangkur. Menghabiskan masa tua di sana. Pergilah ia dengan kandungan yang menua. Di tengah perjalanan, dirasakannya perutnya mulas tiada tertahan. Feelingnya berkata bahwa ia akan melahirkan. Dipilihnya kuburan anak sebagai tempat yang nyaman.

bayinya pun lahir. Endok lalu melakukan inisiasi dini. membersihkan bayinya yang berlumuran darah. Sudah bulat tekatnya untuk membuang bayi tersebut. Meski berat. Ditinggalkannya bayi itu sendirian di tengah kuburan.

bayi itulah Arok, yang kemudian ditemukan oleh pencuri, Ki Lembong namanya. karena kasihan dan ia pun tak mempunyai anak, dibawanya bayi itu pulang. Diberinya nama Temon. Saat ditemukan, ada pancaran cahaya yang menyilaukan di ubun-ubun sang bayi. Itulah yang membuat Ki Lembong tertarik untuk membawanya pulang.

~bersambung~

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s