Undefinable Feeling #2

Oleh-oleh dari Puncak, Bogor

17-19 Mei 2012

Bukan peuyeum, dodol, atau apalah itu. Namun salah satu yang kudapat dari makrab kemarin adalah rasa rinduku dengan kelengkapan keluarga. bukan karena hilang. telah tiada, atau pergi. melainkan sebuah perpisahan yang takkan pernah kujumpai alasannya. bisa kubilang jika keluargaku sudah pecah, berantakan. menjadi puing dan berserakan.

pagi itu. hari terakhirku di puncak. setelah kedinginan memeluk air laksana lelehan es, aku berhasrat menilik pemandangan hijau di beranda villa. dedaunan menyapa dari kejauhan. aroma angin sejuk langsung menusuk-nusuk baju hangat, mencoba merangsek masuk dan mengoyaknya. lalu gunung-gemunung yang berderet rapi dengan warnanya yang satu. memang tak bisa disangkal, jika takkan kudapat hal seperti ini di Bintaro, tempatku kuliah.

tanpa sadar, kugeser arah pandang. ke bawah. tempatku berpijak berada di lantai ke-4. paling atas. di sana, kudapati sebuah kisah kasih mesra sebuah pasangan dewasa.  berayun di antara bunga yang menari dengan irama cinta untuk mereka.

dengan berpegang pada tiang penyangga. sang wanita tengah menyandarkan kepala di bahu pasangannya. nyaman, kurasa. dengan posisi tangan melingkar di pinggang. dan mereka kembali berayun seirama angin. begitu pula dengan sang pria. mengelus lembut kepala pasangannya. dengan kaki tetap menjaga pola ritmenya.

lalu aku flashback ke masa yang telah lama silam. sebuah hari saat kami (keluargaku) tamasya. dengan posisi yang sama, Papa dan Mama di dalam ingatan. hanya saja dalam ayunan yang berbeda. tapi saat itu, mereka masih baik-baik saja. ada senyum di sudut bibir mereka. membentuk setengah donat. apik.

kemudian, ingatanku melesat ke tahun-tahun berikutnya. masih dengan sebuah makna mesra dari mereka (Papa-Mama). namun saat itu, aku sudah lebih dewasa. sudah bisa merasakan arti kata ‘keluarga’. hangat dalam dekapnya. hingar dalam senyumnya.  membuatku betah berlama-lama saat menikmatinya. senyum itu masih di sana. di sudut bibirnya. terpoles makin apik dengan warna yang mencerah indah.

tak lama, ingatanku kembali terbang. tanpa sayap. lalu jatuh di tahun-tahun berikutnya. di sana tak kudapati lagi senyum-senyum itu. dia telah pergi dengan membawa seluruh barang-barangnya. beringsut pergi meninggalkan kami dengan beragam luka yang menganga.  mereka kini tak lagi satu. dan aku harus menerima itu dengan menjabat kata terpaksa.

ingatanku kembali. kini menggandeng tangis yang hampir tumpah. jika aku tak ingat ada banyak teman yang tengah main billiyard di belakangku, mungkin aku sudah tersedu. skenario yang tengah berlangsung dalam kedipan mata itu telah membawaku kembali di kehidupan yang telah lalu. yang hampir tak mau aku mengingatnya. bahkan aku telah berjanji untuk tak akan kembali menangis. tapi ternyata aku masih payah. belum benar-benar bisa berdiri tegak. masih limbung lalu kembali tersungkur jatuh.

Pa, Ma, 

aku memang takkan pernah paham dengan tujuan kalian berpisah. bagaimanapun caraku berpikir, pasti hanya jalam buntu yang kudapat. pun jika aku mengubah sudut pandang menjadi kalian. hanya bingung yang kusapa. lalu kembali jatuh terjerembab di tanah, basah. 

mungkin benar kata orang. sebuah perceraian hanya akan menggores luka. terutama untuk anak. begitulah yang terjadi denganku. di masa lalu, sekarang, dan entah sampai kapan. terlalu sakit jika saat mengingat kalian tak lagi bersama. sedih jika harus jumpa dan  kudapati hanya satu. miris jika harus melihat kalian di tempat dan waktu yang berbeda. selalu iri dengan yang lainnya. 

Pa, Ma

mungkin aku terlalu egois jika masih berharap kalian bisa kembali satu. mengesampingkan seluruh permasalahan dan beban di antara kalian. tapi keegoisanku ini adalah bukti cintaku untukmu. sebuah permintaan anak kepada orang tuanya yang tak lagi utuh. mungkin hati kalian tercabik oleh peristiwa di masa lalu. tapi tolong, lihatlah hati  kami yang lebih parah. salahkah jika kami masih membutuhkan kasih sayang kalian?

Pa, Ma

maaf  jika akhir-akhir ini aku sudah jarang pulang. bukan karena uang atau waktu. tapi aku benar-benar tak kuat jika harus melihat kalian seperti itu. melihat Papa di kota itu, lalu menjenguk mama di kota yang lain. 

biarkanlah ku di sini. menganyam asa untuk masa depan.  saat ini, hanya satu tujuanku, berusaha menjadi yang terbaik agar bisa menjadi kebanggaan kalian. agar bisa kembali mengukir tangis bangga lagi di wajah kalian. terima kasih atas tempaannya hingga buatku mendewasa. doakan anakmu, agar sanggup menyelesaikan tugas kuliah lalu kembali ke daerah.

dari anakmu, di rantau

surat ini kulayangkan langsung dalam kotak surat sendu dalam hati papa dan mama. semoga dalam perjalanan, mereka bisa membelah diri dan mencari tujuan masing-masing.

pintaku kepada pasangan yang akan berpisah, tolong pikirkan masa depan anak kalian. saya yakin kalian sudah dewasa untuk memikirkan segalanya. memang setiap keputusan mengandung risiko. kita tak bisa menghindarinya. tugas kita hanyalah meminimalisasi risiko yang mungkin terjadi.

 

Puncak, Bogor
19 Mei 2012

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s