Kecoa Terbang

Suatu hari, Mas Pocong maen ke rumah Jeng Kunti. Rumah sepi, hanya ada Jeng Kunti dan adiknya. Orang tua Jeng Kun sedang menghadiri hajatan di kuburan sebelah. Alhasil, mereka bertiga nonton film di ruang tengah. Kebetulan Mas Po membawa film horor, favorit mereka.

“Beb, kubuatin minum dulu ya. Mau jus darah atau es campur menyan?”

“Apa aja deh, Darl.”

“OK, bentar ya.”

Sang adik lalu membuntuti kakaknya. Mungkin ingin buang air atau sekadar mengambil cemilan. Namun tak berselang lama, terdengar  suara ribut dari arah dapur. Lalu,  tangis sang adik pun pecah. Mas Po lalu bergegas ke arah sumber suara, bertanya pada kekasihnya.

“Ada apa, Darl?”

“Nggak ada apa-apa kok, Beb.”

“Beneran?”

“Iya, percaya deh sama aku.”

“Tapi Darl, adik kamu kok nangis, kamu apain?”

“Nggak aku apa-apain kok. Suer dah.”

“Tidak mungkin dia nangis kalau tidak diapa-apain.”

“Uhm… tadi cuma ada kecoa terbang, kamu tau kan Beb, aku jijik banget sama hewan itu. Trus aku kejar deh. Tadi malah sampai muter-muter dapur lho. Tapi aku nggak mau nyerah. Masih terus kukejar kecoa sialan itu. Eh, dia malah hinggap di kepala adik.”

“Cuma itu?”

“Nggak juga sih. Kecoa itu trus kupukul pakai batang sapu, tapi nggak kena. Trus dia malah nangis seperti itu.”

 

Aila Nadari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s