Sebuah Klapertart Tulisan

Saya menyadari dan memastikan bahwa karya tulis, apalagi fiksi, adalah sebuah karya seni. Karenanya, tidak ada aturan baku mengenainya. Bagaimanapun cara dan wujudnya, itu sepenuhnya menjadi hak sang kreator. Seperti yang tersirat dalam Artist Unknown tadi.

Di belahan bumi yang lain, fakta sejarah menunjukkan bahwa kemajuan zaman ditentukan oleh akumulasi pengetahuan dan inovasi yang ada. Pengetahuan dan inovasi ini dapat terakumulasi jika dimungkinkan untuk dipelajari oleh sebanyak mungkin orang. Tapi sayangnya, hampir semua pengetahuan dan (apalagi) inovasi adalah sebuah karya seni.

Oleh karenanya, membuat konstruksi atau model sebuah karya seni bukanlah sebuah upaya untuk menyabotase keindahan, tetapi justru menjadi greget kemajuan.

Karena saya menyadari kemampuan menulis bangsa kita masih relatif rendah, jika dibandingkan dengan beberapa negara lain, saya membuat penelitian kecil2an. Saya mendistorsi (menransfer konsep) ilmu Neuro-Linguistic Programming (NLP) dan hipnosis yang telah saya pelajari, ke dalam bidang penulisan. Saya menjadikan tetralogi Buru Pramoedya sebagai objek penelitian awal. Penginnya, dari penelitian itu saya melahirkan model menulis yang ramah seperti bangsa kita.
Mudah dipelajari dan enak dibaca oleh siapapun. Seloyang model menulis yang seenak klaaper tart. Beberapa iris sudah saya share dalam kebersamaan kita dalam HWC kemaren, meski saya akui, belum enak betul. Mungkin kelapanya terlalu tua.😀

Dalam perjalanan, saya juga mempelajari berbagai macam buku tentang menulis. Dua di antaranya, yang paling signifikan, adalah Hypnotic Writing (Joe Vitale) dan The First Five Pages (Noah Lukeman). Bisa dicari di Amazon atau kopiannya di Lumbungbuku.com. Saya juga berkomunikasi dengan beberapa penulis, baik lokal maupun interlokal. Fiksi dan non fiksi. Ada juga sih yang kita ajak komunikasi, nggak ngerespon. Hehe.

Secara garis besar, adonan klaaper tart yang saya bikin adalah sbb:

1. Tulisan yang friendly adalah tulisan yang memberi ruang bagi pembacanya untuk menentukan imajinasinya sendiri. Untuk itu dia
bukanlah tulisan yang egois. Ini tesis paling mendasar dari berkomunikasi: the map is not the teritory, our map isn’t same with
other’s.

Pembaca akan selalu bertanya, “Peduli apa? Lalu kenapa? Apa gunanya buatku?” saat membaca tulisan kita.

2. Dulce et utile. Seniman Perancis paham betul istilah ini. Karya seni sejatinya adalah bentuk kontribusi seseorang kepada zamannya.
Oleh karenanya karya seni itu tidak hanya indah (dulce), tapi juga bermanfaat (utile). Tulisan yang friendly itu tidak hanya indah dan
elok, tapi juga bermanfaat. Apa keyakinan atau nilai-nilai yang ingin kita benamkan ke dalam karya kita.

Tantangannya adalah bagaimana menyampaikan keyakinan kita tanpa teks yang menggurui (covert persuasion).

3. Tidak ada tulisan yang hebat, yang ada hanya tulisan ulang yang hebat. Ini adalah rahasia terbesar membuat tulisan bersejarah.
Bersedia mengedit dan memoles ulang.

Lalu bagaimana saya me-reviu naskahmu?

Yang ini kamu juga sudah tahu. Saya menggunakan langkah2 yang lazim digunakan oleh editor.

1. Lima halaman pertama. Ini kebiasaan editor di mana-mana. Tapi ternyata ada benarnya. Kunci keberhasilan menghipnosis seseorang adalah saat orang tsb bersedia untuk dihipnosis. Untuk bersedia dihipnosis, secara sadar orang tsb harus percaya kepada kita. Sedang secara tidak sadar, kita harus benar2 bisa memukaunya, sehingga dia terpana (critical area-nya terbuka). Dalam menulis pun sama. Bagian awal adalah penampilan kita untuk merebut kepercayaan pembaca, memukaunya, atau melakukan keduanya.

Halangan yang umum ditemui di lima halaman pertama adalah:

a. Kata sifat dan kata keterangan; penggunaannya berlebihan atau tidak. Jika berlebihan, kita memberikan seluruh detail ke pembaca,
yang artinya menghalau imajinasi mereka. Cari kata benda atau kata kerja yang lebih kuat, sehingga membutuhkan kata sifat atau kata
keterangan seminimal mungkin.

b. Irama. Tulisan yang friendly adalah tulisan yang enak didengar. Baca tulisanmu secara keras, dengarkan bagaimana iramanya.

c. Perbandingan (metafora, analogi, simile). Seperti vitamin, gunakan dalam dosis yang tepat. Tidak terlalu sedikit sehingga tulisan seperti standar operating procedure. Tidak juga terlalu banyak seperti samudera Pasifik yang ditaburi garam selautan.

Lima halaman pertama dianggap pintu untuk generalisasi oleh editor. Jika lima halaman ini tidak memukau, halaman2 berikutnya juga dianggap sama.

2. Dialog. Ini adalah cermin kepekaan. Tulisan yang kurang dialog itu sunyi, kelebihan dialog itu berisik. Tulisan yang friendly adalah yang peka terhadap pembacanya.

Hambatan yang lazim dalam membuat dialog:
a. Terlalu biasa. Dalam ngobrol sehari-hari pun jarang kita mengatakan hal2 yang terlalu biasa. Basa-basi dalam cerita, sebaiknya dituangkan dalam narasi saja.
b. Terlalu informatif. Terkadang kita ingin menyampaikan karakter atau informasi cerita dalam dialog. But come on, dalam keseharian kita juga gak gitu juga kali. Kecuali kita dianggap skripsi yang berjalan. Informasi dapat dilukiskan dalam narasi.
c. Penanda bikin runyam. Penanda (contoh: Dia berkata,”) digunakan untuk membantu pembaca agar tidak bingung. Penanda sebaiknya tidak terlalu monoton, tidak juga terlalu variatif.

3. Gambaran Lebih Lanjut. Setelah berhasil melewati pemindaian lima halaman pertama dan sampel dialog, editor baru akan melihat gambaran yang lebih besar dari naskah kita.

Unsur yang biasanya dilihat sebagai penentu kualitas adalah:
a. “Don’t tell me you love me, but show me.” Naskah yang menceritakan, layaknya daftar fakta atau deretan kata dalam kamus. Alih2, penulis bisa menunjukkannya. Daripada menulis “Cuaca sangat ekstrem”, lebih baik menulis “Sudah lima bulan hujan terus turun”. Atau gunakan adegan sebagai alternatif deskripsi. Daripada menulis “Dia adalah anak yang sholeh”, lebih baik tuliskan adegan saat dia sedang sholat malam. Menunjukkan memberi keleluasaan bagi pembaca untuk berimajinasi.

b. Sudut pandang dan karakter. Poinnya juga sama, ramahlah terhadap pembaca, jangan membuat mereka bingung. Menggunakan dua atau lebih sudut pandang tentu saja boleh, asal memperkaya tulisan, bukan bermaksud mengesankan.  Jika menggunakan sudut pandang orang pertama, ketahuilah batasannya. Seringkali si orang pertama (karena dia sebagai sudut pandang) dengan pasti mengetahui isi pikiran karakter orang lain.

c. Pada akhirnya, “Mak nyus atau tidak?”. Tulisan itu ibarat makanan, secara keseluruhan akan membuat pembaca puas atau tidak. Ini terkait kualitas cerita, pengalaman dalam proses membaca, dan peta yang muncul dalam benak pembaca setelahnya.

Itu secara singkat.

 

salam pena ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s