[tidak] UNTUK DEWASA

Oleh : Wirasatriaji

 

SD Watesalit 2 tampak riuh ketika bel sekolah berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar kelas. Dengan sedikit berlari, aku bergegas melangkah keluar gerbang sekolah.

 

“Hei…” sebuah suara memaksaku menoleh ke belakang. Mila berlari ke arahku.

 

“Pulang bareng yuk?” pinta Mila.

 

“Tidak, aku ada urusan. Jalannya berlainan arah,” jawabku seraya menggeleng.

 

Raut wajahnya seketika padam. “Anak kecil nggak boleh punya urusan. Anak kecil urusannya cuma bermain. Nanti kalau sudah dewasa boleh punya urusan, boleh pulang malam, boleh tidak pulang,” protes Mila.

 

“Anak kecil tidak boleh tahu urusan orang lain,” balasku sambil berlalu.

 

“Padahal aku sengaja nggak minta dijemput supaya bisa pulang bareng sama kamu !” teriaknya menyusul.

 

“Bukannya lebih enak dijemput mobil? aku juga senang naik mobil kamu. Mobilmu bagus,” ujarku tanpa menoleh.

 

“Kamu lebih senang naik mobil bersamaku daripada jalan kaki bersamaku?” pertanyaannya menghentikan langkahku.

 

“Kamu persis orang dewasa,” aku tersenyum. Menghampirinya yang tertinggal dibelakangku.

 

“Kamu juga seperti orang dewasa, tidak menjawab pertanyaanku,” hardik gadis mungil di depanku.

 

“Kita memang seperti orang dewasa,” kataku sambil menghadiahi senyuman untuk kesekian kalinya.

 

Mila ikut terseyum, “jadi?”

 

“Aku suka bersamamu,” jawabku sembari merapikan gerai rambutnya.

 

“Lalu kenapa kamu nggak mau pulang bersamaku?”

 

“Anak kecil selalu mengejar jawaban dari apa yang menjadi pertanyaan dirinya.”

 

“Aku memang masih kecil,” protes Mila.

 

“Kita anak kecil yang dipaksakan untuk mengikuti dunia orang dewasa,” kataku sekenanya.

 

“Aku tidak mengerti,” komentar Mila berkalung tanya.

 

“Aku juga. Anak kecil berbicara tapi kadang tak tahu apa artinya.”

 

“Kamu persis orang dewasa,” katanya sambil tertawa lepas.

 

“Kamu juga,” kujatuhkan pandangan tepat pada korneanya.

 

Mila menatapku, “apa kamu sengaja bicara perkara lain supaya aku lupa?” tagihnya.

 

“Tidak,” aku menggeleng. Kuamati teduh matanya dalam kebisuan.

 

“Kenapa kamu suka seperti itu? menatap mataku berlama-lama. Aku malu,” pipi Mila memerah. Tersipu.

 

“Matamu seperti lautan. Meneduhkan.”

 

“Kamu persis orang dewasa yang banyak di sinetron-sinetron. Gombal,” kata Mila setengah menjulurkan lidah.

 

Aku menarik Mila ke bawah pohon mangga lantas mengecup pipi kirinya. Lalu kembali kutatap matanya. Tanpa kuduga, tiba-tiba Mila mengecup bibirku, melumatnya beberapa detik. Jantungku berdetak kencang. Mila menunduk.

 

“Bibirmu hangat,” kata Mila.

 

“Bibirmu lembut,” balasku menimpali.

 

“Aku takut hamil,” katanya menunduk.

 

“Tidak mungkin, ciuman tidak membuat hamil.” Kupeluk tubuh mungilnya.

 

“Tapi kalau hamil?”

 

“Tidak akan. Untuk hamil perlu persetubuhan?”

 

“Persetubuhan?” tanya Mila bingung.

 

“Aku harus menggoyang-goyangkan pantatku dan membasahi itumu,” jawabku menunjuk ke arah selangkangannya.

 

“Kamu jorok ah,” Mila menutup matanya dengan telapak tangan.

 

“Aku hanya menjawab pertanyaanmu.”

 

“Aku menyesal bertanya.”

 

“Aku harus pergi sekarang untuk urusanku,” kataku melepas pelukan.

 

“Kamu akan menjagaku?” tanya Mila tersenyum.

 

Aku mengangguk.

 

“Kamu akan menikah denganku?”

 

“Kita masih kecil, masih lama.”

 

“Jawab saja !” paksanya.

 

“Iya,” aku mengangguk lagi.

 

“Aku tak dengar,” Mila membuang muka.

 

“Iyaaa…!” teriakku.

 

Sedetik kemudian aku meninggalkannya yang terpaku di rindangnya pohon Mangga. Mila masih menatap punggungku hingga aku tak terlihat olehnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s