DOWNLOAD E-BOOK KOMPILOGI PUISI LASKAR PENATIC

 

Seperti kegilaan. Pada saatnya kegilaan menjadi suatu alternatif penyembuhan, terapi bagi kerja sistem-sistem kesadaran. Kegilaan yang permanen sebagai manifestasi dari kerja ketidaksadaran menjadi oposisi yang terus-menerus terhadap kesadaran. Merongrong dengan gencar membentuk keseimbangannya sendiri bagi diri kita. Sesuatu yang justru semata-mata membuat kita utuh, ada, karena bagian-bagian yang terus saling mempecundangi dan saling kalah, ia menjadi biner, bergantian untuk menduduki posisi diri yang relatif, yang tak pernah mencapai situasi sempurna, posisi mutlak.

 

Ingatan sebagai manifestasi diri, berkorespondensi terus terhadap posisi kesadaran-ketidaksadaran. Ingatan yang diproduksi kesadaran memompa kembali kenangan-kenangan dan pengalaman. Rasa yang aneh dari peristiwa yang telah terjadi, rindu, masa silam, juga harapan masa depan. Puisi disitu kemudian lahir merepresentasikan hal-hal tersebut. Puisi menjadi semacam jurnal yang ditulis. Manifestasi dan reprensentasi dari peristiwa silam melalui efektivitas kata dan sintaksis yang ketat. Pada mulanya ia barangkali cuma sekedar klangenan. Obat bagi rindu kita, rasa yang aneh itu. Namun intensitas yang terus-menerus itu, kesetiaan terhadap kata membuat segalanya berubah. Puisi seperti makhluk lapar yang minta ditulis tanpa kompromi, tanpa ampun! Puisi telah menjadi hidup itu sendiri, tiada berjarak. Puisi kemudian bukanlah sekedar kata, ia bahkan telah menggenggam dirinya sebagai sperma-kata, ovum-kata. Agak naif sebetulnya jika saya harus menjenis kelaminkan kata sebagai materi dari puisi.

 

Ini adalah kumpulan puisi dari Laskar Penatic, sebutan untuk anggota Grup Kepenulisan Sahabat Musafir Pena antara lain:

 

  1. Langga Gustanto – Aku Akan tetap Setia
  2. Wirasatriaji – Rindu Terkungkung
  3. Abu Sudar – Cerita Gila
  4. Mukhlis – cinta yang sederhana
  5. Aidha – Tungku kehidupan
  6. Miladani – Hujan dan Pelangi
  7.  Zillian – Bukan dalam heningmu
  8.  Lovely – Ibu
  9.  Bevandhyta – Sajak untuk cinta tanpa batas
  10.  Chaira – menolehlah, jika engkau sempat
  11.  ayuni – Rindu untuk ibu
  12.   Mpit – mereka bilang aku awan
  13.  Zizzah – pujangga penggores luka
  14. Sol – Tersesat
  15.   Marjan – Aku ingin Selalu kuat
  16.   Romz – Anganku
  17.  Cucu – cinta semu
  18.  Ainun – kau
  19.  Eva – feb***ari
  20.  Tin winardi – serasa virus | cemara
  21. Rahadi – akulah asap
  22. ayesha – tentangmu alaur
  23. Evelin – selayang kenang
  24. Gemintang – n.a.m.a
  25. NIa – Biarkan Bersemi
  26. Iruka – Alfabetis rasa di sigma
  27. Mitha Juniar – Episode Cinta
  28. Elis W. P. – Senja Berpalu api

Saya tidak meletakkan tema sebagai posisi yang paling penting dalam puisi. Tema adalah proyeksi dari narasi-narasi yang bisa diciptakan dari mana saja. Saya jadi Penyair dengan kepribadian ganda, yang menulis puisi dengan kesadaran optimal, bahkan maksimal, menyeleksi dengan ketat pola-pola sintaksis, mengefektifkan kata-kata, melakukan pembauran diksi. Di sisi lain, saya pun melakukan praktik pembebasan terhadap puisi, ia boleh mengetuk pintu saya kapan saja. Saya tidak menolak otomatisasi dalam puisi sekaligus membiarkan spontanitas bahasa berejakulasi dan melakukan orgasmenya lewat tangan saya.

Akhirnya puisi adalah sejauh saya masih terus bisa menuliskannya dan anda berkenan membacanya. Jika pun anda tidak membacanya, puisi tetaplah puisi.

 

 

E-book ini tidak diperjualbelikan.

Silahkan Download secara Gratis di:

http://alisakit.blogspot.com/2012/03/e-book-antologi-puisi.html

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s