All About Major Label ‘n Indie Label (Resume)

 

 

Diskusi Insomnia 16 April 2012 mendapatkan tanggapan yang baik dari anggota Laskar Penatic dan pastinya menambah wawasan para penulis pemula seperti saya.

 

Kak Ali pada diskusi ini menanyakan tentang pengetahuan Laskar SMP terkait Penerbit Mayor dan Penerbit Minor. Hasilnya adalah Romz, Nur Aliyah dan Dhyla memberikan pendapat yang hampir sama yakni pada penerbit indie biasanya kita (penulis) yang membayar mereka untuk biaya penerbitan. Terkait cover, editing dan tetek bengek lainnya penulis yang ngurus. Penerbit terima beres naskah dan tinggal cetak. Setelah cetak, kita sendiri yang mempublikasikan atau self publishing. Untuk penerbit yang memiliki website bisa juga di jual di websitenya atau toko buku online. Walaupun sebenarnya toko buku online juga menyediakan buku hasil penerbit mayor. Sedangkan penerbit mayor, skalanya nasional. Biasanya mereka menseleksi naskah yang masuk. makanya agak susah tembusnya karena mereka mempertimbangkan apakah naskah ini layak di jual apa tidak? karena mereka yang bayar kita. Naskah pun akan diminta untuk dipoles lagi oleh editor. Kalau sudah selelsai maka tinggal penentuan apakah naskah akan di jual putus, setengah royalty atau royalty. Disamping itu, biasanya penerbit mayor punya toko buku dan cabang yang tersebar diseluruh Indonesia.

 

Aidha Utami Penerbit Mayortidak menerima buku yang ditulis oleh lebih dari seorang. Sedangkan penerbit indie awalnya menjual bukunya melalui toko buku online, tapi jika sudah laku lebih dari 500eks bisa masuk ke distributor besar seperti toko-toko buku yang sudah besar.

 

Sela memberikan pendapat bahwa mayor itu penerbit yang memfasilitasi proses penerbitan sebuah buku dari penulis, namun biasanya mereka hanya ingin menerbitkan hasil karya dari penulis ternama jika tidak pun penulis amatir harus melewati seleksi yang ketat karena penulis tsb dibayar bkn membayar berbeda dengan indie biasanya penulis yang memakai jalan pintas ini menggunakan jasa percetakan biasa dan memasarkannya secara perorangan (tidak dijamin pemasaran oleh penerbit) malah ada yang mencetak secara manual dan dibukukan sendiri dan dipasarkan secara kekerabatan.

 

Dari pendapat di atas, Kak Ali Sakit Wirasatriaji menyimpulkan bahwa pendapat di atas adalah pengertian berdasarkan proses. Selanjutnya Kak Ali memberikan wawasan bahwa :

  1. Apakah kalau naskahmu sudah masuk mayor lalu tinggal kongkow-kongkow dirumah dan terima duit? Seenak itukah? Berapa banyak penulis yang mengeluh karena tenaga dan pikirannya harus dipaksa memenuhi acara promo buku yang dipaksakan oleh penerbit. Memang sih dibayar, tapi sekuat apa sih tubuh manusia, bila harus pergi dari satu kota ke kota lain demi mempromo buku?
  2. Apakah ketika naskahmu masuk mayor lalu akan terbit sesuai dengan yang kamu tulis? Tidak ! Banyak karya yang dipangkas karena alasan “tidak marketable”. Ideologi-ideologi yang sebenarnya penting kita sampaikan, justru dipangkas rata menjadi karya yang “pasaran”. Banggakah kita? Dikit sih..
  3. Apakah memasukkan naskah ke mayor sampai diterima itu semudah membalikkan tangan? Kadang gue geli kalau ada panitia bikin event yg mau diusahain ke mayor. Nah, kalau dia bisa usahain ke mayor ngapain bikin antologi?mending novel solo. Logiskah pemikiran ini? Banyak-banyaklah berbagi cerita dengan teman penulis. Anda akan tahu berapa ratus kali ia ditolak penerbit mayor, padahal naskahnya sudah “terkategorikan layak”. Mengapa? Pasar yang berbicara. Mayor adalah kapitalisme.

Contoh sederhana, ketika ayat2 cinta booming, kalo lu ngirim naskah yang setema itu, kemungkinan diterima lebih besar kala itu. Nah kalau sekarang lagi musim humor yang gombal, penerbit pun akan tetap lebih mengutamakan tema sejenis. Akankah kita mau menjadi “PENULIS PESANAN PASAR?” . Gue butuh makan, butuh duit. Itu alasan yang purba saya kira. Apakah dunia literasi layaknya bisnis putau? Dan ini tidak terjadi di dunia literasi saja. Musik contohnya. Saya sangat mengutuk mereka-mereka yang sok memberontak dengan lirik-lirik politik penuh pergerakan demi kebebasan. Lalu ketika dilirik mayor label, besoknya udah ganti lagu cinta yang menjijikkan dan bikin muntah.

 

Dalam kajian ini Kak Ali Sakit Wirasatriaji meluruskan pendapat di atas bahwa penerbit Indie tidak selamanya dijual melalui online, bisa juga dijual di toko buku. Menurut Kak Ali, Indie itu adalah Independen = bebas merdeka. Nulis sendiri, nyetak sendiri, ukuran, tata letak, cover lu sendiri. Nah, sendiri disini, kalau tidak punya keahlian desain cover misalnya, pakailah jasa desain. Namanya kita pakai jasa desain terserah maunya kita dong. Lalu cetak sendiri, lu pergi ke percetakan minta dicetak. Nah self publishing yg skrng beredar harusnya y sperti itu. Hanya mencetak saja. Harga jual harusnya kita yang tentukan setelah kita menerima perhitungan biaya cetak.

Ditambahkan pula bahwa Indie tidak sama dengan self publishing sedangkan self publishing hanya sarana saja.

 

Kak Ali juga menjelaskan dengan panjang kali lebar kali tinggi;

tentang contoh, lu liat buku SAMAN karya Ayu Utami dan sebelahnya buku SAMIN karya Wirasatriaji. Misal ni. Dua2nya kok harganya sama2 50ribu, lu pilih mana? Tentunya lu pilih penulis yg udah jelas. Siapa pula wirasatriaji? Tukang ojek pengkolan? Kan gitu.

Mari berfikir realistis, yang penting karyaku dibukukan. Yang penting naskahku terbit yang penting ini itu. Apakah anda pantas menyajikan karya bila pemikiran anda hanya “yang penting” begitu? apakah anda layak menjadi penulis dengan menebar manfaat bila memanfaatkan potensi diri saja tidak bisa? lalu mau dibawa kemana hubungan kita? Eh, maaf maksudnya mau dibawa kemana arah karya kita? ada yang mau ditanyakan?

Anggapan bahwa indie itu karya tidak bermutu. Karya yang tidak diterima penerbit mayor. Jawabannya iya, kalau isinya nggak jauh beda dengan karya karya yang ada di penerbit mayor. Tema cinta, humor, dll yang umum bin umum wal umuuuumun. Kualitas? jelas bisa ditebak. Tapi akan saya jawab TIDAK ketika isinya Sesuatu yang tidak saya temukan di buku2 mayor. Pemikiran2 eksteme, ideologi akan sosial, sindiran akan realitas. Hal semacam ini yang paling ditakuti mayor. Karena alasan, TIDAK MARKETABLE.

 

Marlyn SaimaruChrist BlueAngel meng-iya-kan penjelasan dari Kak Ali dan menambahkan bahwa penerbit mayor memberikan royalty pada para penulis sekitar 5 – 15%. Soal pengiriman naskah kesini, butuh kesabaran super ekstra. Kadang naskah kita di confirm diterima atau tidaknya sampai beberapa bulan bahkan ada yang tembus 1 tahun. Kadang kalau nasib malang yah takkan ada pemberitahuan kecuali kita yang ngotot. Semakin terkenal sebuah penerbit mayor, semakin lama anda akan manggut-manggut nungguin konfirmasi naskah.

 

Kak Musafir Pena bin Langga berpendapat; sama-sama menerbitkan sebuah produk namun sistematisnya dan ketentuan yang berbeda. Tak perlu takut jika bukumu mungkin dipenerbitan indie tidak selaris dan laku dipasarang spt terbitan mayor. Kenapa? tentu spt yang dikatakan kawan kita Ali Sakit Wirasatriaji bahwa kita selalu mendapatkan beban diluar aktifitas kita sebagai menulis yaitu promo maupun menghadiri workshop-workshop di berbagai kota. Loh kan kata mas Ali juga dibayar kak? Kita kan juga bisa belajar ilmu market? jawaban iya. Semua tergantung niat kita, tetapi jika memang ada ‘wacana disetiap event yang menjanjikan naskah lolos akan diterbitkan di Mayor’ tentu kita semua harus mengkajinya ulang. jika memang benar, tentunya penerbit mayor tidak sembarangan, Mereka pasti hanya melihat di dalam naskahnya nama-nama penulis yang sdh cukup populer dan memiliki jaringan yang luas. tentu jika kita satukan pemikiran mengenai market tadi. Bagi saya penerbit mayor dan indie sama saja, yang paling terpenting tulisan saya bisa sampai ke publik dan mendatangkan manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung, terlepas apakah saya mendapatkan banyak royalti dari hasil penjualan buku tersebut. Rezeki tidak akan ke mana-mana. yang terpenting percaya, bahwa suatu kebaikan akn menghasilkan kebaikan pula. itu intinya dan sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang dapat memberikan banyak manfaat, entah dengan tenaga, materi maupun pemikiran yang dituangkan melalui sebuah karya tulis.

 

Jadi, Notulis dapat sedikit menarik kesimpulan bahwa penerbit Mayor maupun penerbit Indie merupakan dua penerbit yang seharusnya kita (sebagai penulis) memahami bersama bahwa bukan hanya keuntungan yang kita kejar dalam menerbitkan buku (yang penting karyanya diterbitin, yang penting kita bisa nampang sebagai penulis, yang penting kita dapat royalty). Terlepas dari itu, kualitas isi buku sangat lebih penting, buku kita akan diterbitkan di penerbit mayor atau indie, jika dari awal niat kita bukan hanya agar karyanya dibukukan, atau naskahnya diterbitkan, atau juga untuk kepentingan pribadi saja namun, perlu ditimbangkan pula kualitas dan kuantitas dari karya yang kita hasilkan. Layak untuk ditebitkan atau hanya untuk KEBANGGAAN DIRI sesaat saja.

 

 

Note: Jika catatan ini dirasa kurang sempurna, mohon disempurnakan. Jika catatan ini kurang ringkas, mohon dibantu meringkaskan atau sesekali waktu akan saya baca ulang dan saya revisi.Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dan kekeliruan.

http://www.facebook.com/groups/sahabat.musafir/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s