Mencari Karya-karya yang Tidak ‘Cerewet’

Dalam cerita, yang penting bukan bagian akhirnya, melainkan kisah kejadiannya.

 

Ada beragam latar belakang peserta Lomba Novel Republika 2011. Mulai dari mahasiswa kampus tak terkenal hingga guru besar universitas ternama. Mulai dari ibu rumah tangga yang belajar menulis dari kursus ke kursus hingga bapak-bapak yang belajar menulis secara otodidak. Mulai dari yang belum mempunyai karya hingga mereka yang sudah memiliki puluhan karya dan difilmkan. Mulai dari mahasiswa yang bekerja sebagai marbot di masjid tak ternama hingga mahasiswa S3 di universitas dunia ternama.

 

Tema cerita pun banyak, dengan angle cerita yang beragam. Ada kisah cinta ala teenlit hingga kisah berlatar sosio-politik. Banyak pula kisah lokal dengan tema yang universal. Yang terakhir ini menjadi andalan sebagian besar peserta sehingga untuk bicara kisah romantik pun, mereka tak memperhatikan nama tempat yang tak memiliki kesan romantik sedikit pun.

 

Ada 458 naskah yang masuk. Satu naskah tak masuk kategori karya lantaran penulisnya hanya mengirim dua buku tulis berisi tulisan tangan, semacam catatan sosial. Dan dua yang dikirimkan hanya melalui email tanpa ada hard copy-nya. Selain itu, ada beberapa penulis yang mengirim dua-tiga karya. Dari keseluruhan naskah, sekitar 45 persen ditulis oleh penulis perempuan, dan 55 persen penulis laki-laki.

 

Ini adalah antusiasme yang membanggakan. Lembaga yang banyak berkecimpung dalam dunia sastra ketika menyelenggarakan acara serupa, hanya diikuti kurang dari 200 peserta. Dan, melihat tanggal yang banyak dicantumkan di halaman akhir setiap karya, terlihat betapa banyak peserta lomba yang memburu tenggat yang ditetapkan panitia.

 

Ada yang karyanya sudah lama dibuat, tapi tak selesai-selesai, dan harus diselesaikan demi ikut merayakan lomba ini. Ada yang memang khusus memulai menulis setelah ada pengumuman lomba ini. Hal yang kami tangkap di kantor Republika sebagai antusiasme yang luar biasa, di tengah pemasaran buku novel sedang menurun pada 2011 itu. Salut untuk para penulis. ‘’Terima kasih untuk para peserta yang ikut menyemarakkan lomba ini,’’ ujar Ketua Panitia Lomba, Syahruddin El-Fikri.

 

Sebanyak 393 naskah dinyatakan panitia lulus seleksi administratif. Sebagian besar yang tak lulus seleksi administratif rata-rata karena karyanya tak mencapai minimal 150 halaman sebagaimana yang ditentukan panitia. Bahkan, ada yang hanya berjumlah sekitar 100 halaman.

 

Sebuah kejutan jika banyak peserta berasal dari kota kecil. Mereka mewakili 133 daerah tingkat dua yang tersebar di 22 provinsi. Hanya Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Pulau Papua yang tak memiliki perwakilan penulis dalam lomba ini (tapi ada kisah ber-setting di Papua).

 

Empat juri melakukan seleksi awal atas 393 karya yang oleh panitia telah dihapus nama penulisnya dari setiap naskah. Darmawan Sepriyossa, Irwan Kelana, Priyantono Oemar, dan Wulan Tunjung Palupi menyeleksinya hingga mencapai 25 besar. Dua puluh lima naskah inilah yang kemudian diseleksi oleh Asma Nadia, Priyantono Oemar, dan Salman Aristo menjadi 10 besar, kemudian menjadi tiga besar: Lontara Rindu (Makassar), Mahameru (Palembang), Bila Cinta Mencari Cahaya (Jember).

 

Maraknya aksi terorisme mengatasnamakan Islam, mendorong banyak penulis membuat pembelaan terhadap Islam lewat karyanya yang dikirim ke panitia. Tapi, banyak yang terjebak pada khotbah verbal, melupakan jenis pembaca yang akan dikhotbahi.

 

Karya-karya yang bertendensi khotbah ini –dalam tema apa pun— rata-rata tak berhasil membangun kisah. Maka itu, ada rentetan ‘tanya-jawab’ berhalaman-halaman dengan isi ‘tanya-jawab’ yang tak ada kaitannya dengan alur cerita. Banyak pula naskah yang begitu cerewetnya, seperti cerewetnya sinetron di televisi kita, karena melulu menghadirkan dialog remeh-temeh.

 

Seringnya menyembunyikan tokoh di sebuah pembuka babak, juga menjadi kelemahan beberapa karya. Kelemahan lain, biasanya hadir lewat penyelesaian satu kisah dalam satu alur, baru kemudian berpindah ke kisah di alur lain sehingga penceritaan terasa sangat lambat. Karena kisah di alur yang satu dengan lainnya saling berkaitan, akan lebih enak dan menjadi dinamis jika dihadirkan lewat alur yang selang-seling.

 

Terlalu banyak kemudahan dalam pemecahan persoalan tokoh utama juga menjadi kelemahan banyak naskah. Drama yang datar-datar saja, tiadanya kejutan-kejutan, kisah yang berulang-ulang di setiap babak, juga menjadi kelemahan banyak naskah.

 

Dari semula, lomba ini menuntut karya yang menghadirkan nilai rahmatan lil alamin. Karya-karya yang masuk dinilai dari sisi tema, pesan, dan penceritaan. Dalam tahap seleksi awal untuk menghasilkan 25 karya yang akan dimajukan ke seleksi berikutnya, kami sering terburu-buru untuk segera membuka halaman-halaman akhir. Dalam cerita, kata penulis teori sastra Rene Wellek dan Austin Warren, yang penting sebenarnya bukan bagian akhirnya, melainkan kisah kejadiannya. Tapi, kami sering menemukan kisah yang kurang tersusun apik alurnya sehingga segera menyudahinya untuk pergi ke bagian akhir, demi memanfaatkan waktu.

 

Yang kemudian terpilih 10 besar dalam seleksi tahap kedua ini paling tidak adalah karya-karya yang memiliki struktur akibat dalam kronologinya. Alurnya tersusun, yang muncul di bagian depan kemudian ada penjelasan-penjelasan pada bagian-bagian sesudahnya. Bukan kejadian yang muncul begitu saja tanpa alasan. Itu menjadi salah satu hal yang membuat pembaca mendapat garansi untuk terus mencermati proses cerita dari awal sampai akhir.

 

Setidaknya karya-karya itu berhasil pula menghadirkan dialog yang bernas penuh dengan metafora. Menghadirkan pula kisah yang bisa membuat orang terbahak karena lucu atau terisak-isak karena haru –dengan berbagai kelemahan kecil di sana-sini tentunya. Setidaknya berhasil menghadirkan comic relief yang membuat pembaca tersenyum, sekaligus mengejek kehidupan. Hal-hal yang pahit di dunia nyata, ketika hadir di karya-karya ini menjadi menyenangkan untuk direnungkan.

 

Bagaimana dalam Lontara Rindu karya S Gegge Mappangewa? Novel yang berkisah tentang pencarian anak kepada sosok ayah ini, menghadirkan comic relief kesibukan orang-orang dengan isu kandungan emas di dalamnya. Walhasil, hanya satu pemilik sawah yang beruntung. Yaitu nenek janda yang rajin bederma, yang sawahnya telah dibeli orang, meski ia sendiri telah mempersilakan orang itu menggarap sawahnya tanpa perlu membelinya. Ribut-ribut emas di lahan sawah gersang ini pernah terjadi di Sulawesi, tempat Lontara Rindu mengambil kisah.

 

Cerita fiksi memang sering menghadirkan dunia yang tumpah tindih dengan realita. Konstruksi-kontruksi sosial yang hadir di 10 besar karya ini, memudahkan pembaca memetakan nama-nama daerah dan persoalan sosial yang menyertainya. Ada kearifan-kearifan lokal yang tetap bisa dinikmati pembaca dari daerah lain, karena nilai-nilai yang dihadirkan itu memiliki nilai universal.

 

Mahameru karya Yana Mardiana (Palembang) yang berkisah tentang pencarian jati diri, mengantarkan salah satu tokohnya pada perjumpaan dengan kearifan orang-orang Bugis dalam menjalani hidup. Mamaheru juga memunculkan kesadaran sederhana dalam proses menerima keberadaan-Nya, lewat pergaulan di kaki Semeru. Setiap kejadian, secara perlahan mendapatkan penjelasan tentang sebab-sebabnya di bagian-bagian berikutnya.

 

Dalam karya Bila Cinta Mencari Cahaya karya Setiyo Harri (Jember), keluarga pemilik kebun yang selama ini menjauhi Islam karena sebuah alasan, pelan-pelan menemukan kembali Islam. Sosok muda yang begitu memikat pemilik kebun, berhasil menawarkan

seleksi nilai-nilai kehidupan lewat argumentasi yang tidak menggurui sehingga membantu pemilik kebun menepis arus besar materi yang telah menyeretnya selama ini.

 

Ada perkembangan pada tokoh-tokoh yang hadir di 10 besar ini. Ada siklus kemajuan ataupun kemunduran dari para tokoh, hal yang sudah jamak perlu ada di sebuah karya sastra. Ada seleksi nilai-nilai kehidupan dan ada idealisasi nilai-nilai kehidupan. “Secara tradisional, novel harus memperlakukan dimensi waktu dengan serius,” tulis Rene Wellek dan Austin Warren. ■

 

Sumber: REPUBLIKA, JUMAT, 13 APRIL 2012

https://www.facebook.com/notes/ilham-q-moehiddin/mencari-karya-karya-yang-tidak-cerewet-dari-penganugerahan-dan-temu-penulis-lomb/10150814262880757

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s