Sebuah Gerbang Kata-1

S-3….

Gelar itu sangat mengusiknya akhir-akhir ini. Meski sebuah impian yang akan menjadi nyata, namun ia datang di saat yang tak tepat. Begitu pikir Nda. Ia hadir tatkala embun mulai menggelayut manja. Mengajaknya untuk sekadar terlelap meski sekejap.

Sodoran itu mengetuk pintu kantor beberapa pagi yang lalu. Meski sopan. Meski nyaman. Tapi tak bisa menutup segala gundah yang terpatri dalam sanubari. Sebuah map coklat besar dibawa langsung oleh Pak Hendrawan, Direktur kantor. Dia geletakkan dengan senyum yang teramat manis. Nda hanya bisa melongo, dengan jemari masih menari dalam irama tuts laptop.

Perlahan dibukanya lembar demi lembar. Tak ada suara. Hanya takjub yang tercipta. Gemetaran badan Nda dibuatnya. Beasiswa. Itulah yang  ia impikan. Deretan kata yang berbaris rapi. Seolah menyapanya di pagi yang ranum. Tak ada jeda merapal kata syukur dalam bibir mungilnya.

Layaknya saat masuk, Pak Hendrawan pun keluar tanpa permisi. Persis seperti yang selalu Beliau lakukan di hari-hari yang telah lalu. Tapi untuk hari ini, Beliau berhasil menyematkan sebungkus harapan untuk seorang karyawan teladannya. Dalam jejak langkah kaki, sebaris senyum terpoles apik dalam raut wajah seniornya.

Namun, senyum itu tak berlangsung lama. Tak sampai sehari map itu bertandang dalam hidupnya, Nda langsung didera kalut yang berkepanjangan. Seolah seperti sedang menyiapkan sidang di muka para dosen, Nda bahkan tak bisa tidur karena terus memikirkannya.

Banyak yang tak setuju dengan rencananya. Bukannya tak suka, hanya saja masalah waktu dan lokasi. Saat ini, Nda tengah hamil muda. Bayi pertama. Tak heran jika seluruh anggota keluarga menggelengkan kepala. “Takut terjadi apa-apa,” katanya.

Pun dengan jarak yang terlampau jauh dari Indonesia. Jika ia meneruskan S3-nya di dalam negeri, mungkin tak akan seperti ini jadinya. Tapi, Bos Besar memberinya kesempatan di Amerika.

Bagaimana jadinya jika Nda harus berjauhan dengan keluarganya? Apalagi saat ia melahirkan nanti. Tak ada keluarga di sampingnya, membantunya mengurus si kecil. Kasihan Ayah dan Ibu. Begitu pula dengan sang suami. Apakah ia harus LDR-an? Aih, seperti ABG saja….

Nda masih sibuk dengan keputusannya. Meski ia sangat yakin, yang hidup pasti akan mengalami hal yang serupa, pilihan. Ya dan tidak. Hanya itu. Meski bisa memilih pilihan hidup, tapi tetap saja tak bisa memilih konsekuensinya. Dan itu yang tengah memeluknya. Dingin.

Untuk beberapa depa, ia belum bisa lari dari bayangan beasiswa. Sangat ingin untuk menganggukkan kepala. Namun banyak pendapat yang membuatnya kembali merenung. Bukan soal egois, tapi untuk kepentingan bersama.

Beasiswa… S-3 di Amerika, kapan lagi? Ambil saja. Toh gratis, kan? Bukan lumayan lagi itu namanya. Melainkan diguyur hujan di musim paceklik. Cepatlah, katakan iya pada Pak Hen. Sebelum dicomot karyawan lain.

Tapi, pikirkan keluarga, suami, dan janinmu. Pendapat mereka benar, Nda. Kau masih bisa mendapatkan itu lain waktu. Tapi tidak untuk sekarang….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s