#2

Senja temaram di langit merah saga. Semburat sinarnya melingkupi segala yang terlukis di sana. Saat-saat seperti ini, sangatlah nyaman ditemani dengan pemandangan kelepak burung yang pulang ke sarang. Awalnya sebuah bentuk yang terlampau jelas, lalu mengecil. Hingga menjadi sebuah titik hitam yang menghilang.

Lama-kelamaan, semburatnya beringsut pergi. Tinggalkan jejak yang mudah terbaca. Di sana, di tempat mentari beranjak. Masih ada remah-remah senja. Indah sekali. Warna yang kontras dengan gelap. Dia terang. Dia hidup.

Rumah masih saja sepi. Hanya ada suara detak-detik jarum jam yang melambat. Kemudian hening. Angin pun sekan tak beriak. Dan aku hanya mematung di sini, di sudut jendela kamar. Menatap langit untuk mengantar senja. Melambaikan tangan lalu menyapa bintang gemintang.

Ayah dan Ibu mungkin masih lama pulangnya. Begitu jika ada acara di kota. Bertemu dengan relasi atau kawan lama. Mungkin juga sedang berburu sesuatu, terkait dengan kerja. Jika sudah begini, aku lebih memilih santai ditemani kartun Spongebob, si kotak kuning yang kocak. Aih, kalau sudah seperti itu, rasanya teve menjadi milikku. Tak ada yang boleh mengganti channel-nya.

Tapi, sebuah undangan kuterima. Terdengar jelas dari udara. Menyatu dengan langit senja yang meredup. Lalu tak hanya ada satu. Mereka bergerombol. Saling menyahut. Lalu aku bergegas.

Beberapa langkah, kepalaku tiba-tiba sakit. Hanya sebelah. Kiri. Rasanya seperti dicengkeram. Sakit sekali. Tak kuat rasanya. Kemudian limbung. Ternyata gelap tak hanya di luar. Meski berlampu, kurasakan semuanya kelam. Dingin.

***

            Kelas Bahasa, masih seperti biasa. Menyepi, apalagi sekarang jam istirahat. Kutemukan Eko yang tersudut di pojok kelas, dengan ponselnya. Bersebelahan dengan Arzat yang tengah sibuk dengan laptopnya. Lalu ada Siant, Dephi, dan Vita yang bergerombol entah dengan tema apa. Meski begitu, agaknya mereka tengah membicarakan petugas administrasi sekolah. Aku tahu itu dari cara mereka tertawa.

Di sudut yang lain, hanya kutemukan angin. Dia sedang meninabobokkan buku yang tersusun rapi di rak. Mungkin sudah tertidur. Nyaman, tak ada yang mengusik. Dan aku masih terpekur di bangku. Novel epik ini membuatku seakan tak bergerak. Terpaku bersama alur sejarahnya. Sejenak menahan napas lalu terperanjat.

Tersedot dalam alur perang. Ikut berpacu dengan barisan kuda. Menyerbu dengan genggaman tombak panjang. Aku ada di barisan belakang. Musuh masih belum terlihat. Tapi kobaran semangat yang didengungkan seakan menyulut rasa nasionalis kami.

Hujan panah pun menderai. Semakin deras saja. Desingnya bahkan menjadi sebuah musik merdu di telinga. Ditambah pula dengan lolongan sakit dari musuh. Seakan menambah ritme ambisi untuk memenangkannya.

Kurasakan udara kelas memanas. Seakan api dalam cerita ini menyentak keluar. Merobek kertas lalu meluas. Dia memang tak membakar tapi hawanya mampu meredam dingin yang sedari tadi singgah. Panasnya seolah mengusir sejuk yang sedang terbuai dengan santainya. Aku pun tak kuat. Mereka bergejolak. Lalu untuk yang kesekian kalinya aku terkaget. Bel sekolah merobohkan imajinasiku.

Jejak-jejak langkah kaki mulai beradu. Iramanya tak beraturan. Tak enak jika didengarkan. Pun dengan kotoran yang mereka bawa. Berdebu. Aku tak suka. Lalu kelas meramai. Bak pasar tumpah di jalanan. Semrawut.

Jam keempat, Bahasa Jepang. Sensei[1] Fath memasuki kelas dengan senyum khasnya, melengkung bulan sabit. Dengan mata yang disipitkan. “Untuk menjiwai pekerjaan,” katanya.

Selangkah dengan kaki tuanya, kelas menyepi. Tak kujumpai suara begitu mata tajamnya menatap kami. Pun dengan jarum jam. Seakan dia pura-pura tidur. Hening sekali.

Minna san, konnichiwa.”[2]

Konnichiwa, Sensei….”

“Baik, kita mulai kegiatan untuk hari ini. Pertemuan yang lalu kita telah membicarakan beberapa kata benda dan kata kerja,” kata Sensei dengan melihat jurnalnya.

Kami pun sibuk membolak-balikkan catatan. Berharap telah menulisnya.

“Jadi sekarang, silahkan tutup buku kalian. Letakkan di sudut meja. Keluarkan selembar kertas. Kita ujian.”

“Aaaaa… ,” sekelas kompak bersuara. Seperti dikomando dalam paduan suara. Seraut wajah ceria mereka lalu berubah menegang. Berbahagia bagi yang tadi sempat jajan. Paling tidak, mereka punya amunisi untuk ujian kali ini. Bagi yang belum, siap-siap untuk berpenyakit ganda, perut dan kepala….

Dan aku hanya tersenyum dalam hati. Berjingkrak. Yeah.

Mulai memojokkan setumpuk buku di sudut meja. Sedikit menghela napas. Lalu kurasakan tawa yang tadi mampir, kini beringsut pergi. Melihat seraut ketegangan di setiap jengkal wajah teman-teman. Mungkin mereka belum belajar.

Kertas ujian mulai dibagikan. Seperti biasa, Sensei Fath menyuruh ketua kelas untuk mengedarkannya. Beliau hanya duduk ditemani sebuah jurnal tua. Banyak huruf kanji di sana. Yang kutahu, jurnal itu dibelinya saat kuliah di Jepang.

Semakin sepi saja kelas ini, benar-benar tak ada suara. Hanya angin yang berani bersiul. Tapi tak lama. Seolah diusir dari kelas. Lalu kembali sunyi. Jarum jam mulai memberanikan diri. Berdetak dalam detiknya. Teratur. Mungkin dia merasa berkuasa dalam ujian ini. Tapi hanya untuk 45 menit, selebihnya kembali bisu.

Tak seperti ujian untuk pelajaran yang lain. Yang masih ada bisikan-bisikan halus. Entah merapal doa atau mencari sesuap jawaban. Pelajaran ini memang beda. Selain terkenal killer, Sensei Fath pun paling tak suka jika ada yang bersuara saat pelajarannya atau mencontek dalam ujiannya. Bisa-bisa kami dikeluarkan saat itu juga. Dan yang paling tragis, ujian kami tak akan disentuhnya.

30 menit berselang. Kertasku sudah penuh dengan jawaban. Bersyukur kemarin sore sempat membaca materi meski sekejap. Tinggal satu soal lagi. Dan menurutku, ini tak akan memakan waktu lama. Hanya saja aku lupa dengan huruf kanjinya. Kucoba mencoret-coret kertas. Berusaha mengingatnya.

“Olinda, sedang apa kamu?” seru Sensei dengan mata mendelik. Horor.

“Eh, tidak sedang apa-apa, Sensei,” ucapku terbata. Takut.

“Kamu tidak sedang mencontek, kan?”

Aku hanya menggeleng.

“Bawa sini pekerjaanmu. Cepat!”

“I… iya….“ Aku mendekat. Dengan muka penuh harap kusodorkan kertasku. Semoga kertas ini tidak disobeknya. Atau diremasnya membentuk sebuah gumpalan. Lalu melemparnya. Semoga….

Aku menangis dalam hati. Menyesali kecerobohanku. Masih 15 menit lagi. seharusnya aku bisa menyelesaikan satu soal itu. hanya bisa berdoa dalam isak. Kulihat Beliau sibuk dengan kertas jawabanku. Sesekali menampakkan wajah seramnya. Lalu tersenyum penuh kata tanya. Salah satu alisnya terangkat. Tapi tak lama. Tangannya pun sibuk mewarnai kertasku dengan pena merah kebangaannya.

Kulihat sudut bibirnya mulai terangkat. Seakan mau berkata. Kupercepat merapal doa. Aku tak mau dimarahinya. Diusirnya dari kelas. Aku menunduk. Gemetaran tanganku. Dingin. Padahal kipas angin belum menyala. Sakit itu kembali mengetukku. Meski tak kupersilahkan, tetap saja dia memaksa. Nyeri.

“Olinda!” panggil Sensei.

“I… iya, Sensei.” Kukuatkan kepala untuk sekadar melihatnya. Tubuhku melemas saat mendapati sorot matanya.

“Kemari kamu,” masih dengan suara kerasnya.

Beranjak dari bangku. Semoga tak pingsan. Tubuhku benar-benar lemas. Mulai kumendekat. Kurasakan napas ini hanya setengah. Kepalaku pun bergejolak. Nyeri sekali.

“Seperti biasa, pekerjaanmu selalu memuaskan. Hanya saja, kurang satu huruf kanji lagi. dan semuanya sempurna. Selamat.”

Tatapan matanya menghangat. Begitu pula dengan nada dan intonasi suaranya. Baru kali ini ada pelangi di wajahnya. Kuterima kertas jawabanku dengan kaki meringan. Saat kubalikkan badan, segalanya menjadi lebih dingin. Kemudian absurd.

Saat sadar. Kudapati baju depanku memerah. Darah. Hidungku pun berat rasanya. Ternyata disumpal. Ada daun sirih di sana. Dalam ruang sempit ini, hanya ada Siant.

“Aku kenapa?”

“Kamu tadi pingsan. Setelah sampai di UKS, ternyata hidungmu sudah mengeluarkan darah. Banyak sekali.”

“Bapak-Ibu? Apa mereka sudah tahu?”

“Sudah. Pihak perawat yang menghubungi. Sudahlah, tenang aja.”

“Bagaimana dengan Pak Killer? Beliau nggak marah kan? Trus diagnosa dokter?”

“Tenanglah. Berkat pingsanmu, ujian kami diperpanjang 15 menit,” ucapnya dengan senyum penuh kemenangan. “Dokter masih menduga kalau kamu kecapekan.”

“Makasih ya.”

Kulihat dia menganggukkan kepala, pelan. Dengan senyum manis terpoles di sudut bibirnya.

***

Kurasakan darah segar kembali mengalir dari hidungku. Ini sudah yang kesekian kalinya. Sudah kutanyakan pada Ibu tapi hasilnya nihil.

“Tak apa, mungkin kamu kecapekan atau selaput hidungmu sobek, Sayang.”

“Iya, Bu. Moga aja emang gak kenapa-napa.”

Seperti biasa. Tak hanya aliran darah tapi juga sakit kepala yang mendera. Rasanya, kepalaku tengah dipukuli benda tumpul yang amat besar. Ah, bukan. Bukan dipukuli melainkan dicengkeram kuat. Sangat. Aku kesakitan. Air mataku menetes, menambah volume aliran air yang keluar dari tubuhku. Aku pingsan di atas sajadah, masih dengan mukena….

Peristiwa berdarah itu berlanjut di sekolah. Suatu siang, usai salat dengan Nazhi.

“Naz….” Meski kutahu dia masih sibuk dengan doanya. Diam. Dia masih menunduk. “Naz….” Untuk yang kedua kalinya. Masih dengan diamnya. “Nazhi….”

“Maaf, napa Nda?” sahutnya.

Aku menunduk. Kurasakan Nazhi mendekat. Kutengadahkan kepala dan dia terperanjat. Mukena biruku sudah memerah di bagian depan.

“Kamu masih kuat gak?”

Kuanggukkan kepala. Kupandang wajahnya. Hal itu buatku sadar, aku harus kuat! “Tolong lipat mukena-ku, ya.” Langsung aku lari menuju kamar mandi.

Masih di lingkungan sekolah, beberapa hari kemudian. Usai upacara bendera.

“Nda, bicara bentar yuk. Masalah tour kelas,” ujar Aldwin, ketua kelas.

Beberapa menit berlalu. Keputusan rapat belum juga dapat. Kusandarkan kepala di dinding ruang. Mencoba santai. Tapi pusing ini kembali datang. Tanpa mengetuk pintu, pun ucapkan permisi padaku. Jangan sekarang, please….

“Naz, jangan berhenti mengajakku ngobrol.” Kurasa ada yang aneh dengan tatapan matanya. Mungkin dia curiga. Hanya anggukan kepala yang kudapat darinya. Rapat masih berlangsung.

“Naz….” Kuraih lengan bajunya.

“Kamu masih kuat kan, Nda?”

“Iya.” Kuanggukkan kepala dan semuanya mengelam.

Aku sudah di UKS saat sadar. Ada banyak temanku di sana. Ah, sungguh baik mereka. Kucoba meyakinkan semuanya jika aku baik-baik saja.

“Baliklah ke kelas, pelajaran udah mulai, kan?” pintaku pada semuanya.

“Cepet pulih ya, Nda… kelas sepi nggak ada kamu.”

“Mohon doa dari kalian ya, Kawan.”

Satu per satu dari mereka pergi. Tinggalkan aku, Siant, dan Dephi. Di tengah percakapanku dengan mereka, aku kembali tak sadarkan diri. Tiga kali.

Akhirnya Ayah dan Ibu datang. Langsung saja aku dibawa ke rumah sakit. Aku opname.

Tuhan, opname. Satu setengah bulan lagi aku sudah ujian nasional. Apa aku bisa? Kuatkan aku, Tuhan. Kurangkai doa, berharap langsung sampai di kotak surat-Nya.

Toxoplasma, entah penyakit macam apa itu. Yang jelas, penyakit itu sudah mencabut izin sekolahku. Kesal. Untung saja ada Nazhi yang menemaniku belajar tiap sore. Saat itu, aku hampir putus asa. Tak yakin bisa mengerjakan soal ujian dengan maksimal. Aku pasrah.


[1] Guru

[2] Selamat siang semuanya-Jepang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s