#1

Sebuah pagi. Masih dengan setianya, embun bertengger di ujung kelam. Erat. Angin pagi ini berhasil membuat para kumbang menari dalam musik bahagia. Hening pagi, mentari mulai menyelinap masuk dalam celahan awan. Merangkak.

Di bagian langit lain, seekor burung gereja terbang rendah. Bagai kapas yang tertiup angin, mengapung. Ringan sekali. Sesekali mengepakkan sayap. Lalu kembali merentangkannya. Ke mana angin bertiup, ke sanalah dia terbang. Begitulah hukum alam….

Pias jingga mendarat dalam sudut kaca helm Nda, seorang siswi SMA akhir. Lirih suaranya menyapa hari yang tengah berganti.

“Selamat pagi mentari, agaknya kau masih murung pagi ini. Tersenyumlah,” demikian gadis itu bersuara. Perlahan, sebinar cahaya menyibak dari gerombolan awan yang terbuka. Dilihatnya mentari pagi masih menggeliat manja.

“Kau tahu, aku begitu merindumu. Tadi malam aku bermimpi bertemu denganmu.” Kemudian, sebaris demi sebaris kata menyatu menjadi sebait puisi. Mengangkasa ia. Berputar-putar selaksa tiba-tiba. “Saat gelap mengganti segalanya dengan gulita, tangis tumpah dari kedua genggam tangan malam. Lalu tiba-tiba terkesiap. Aku hanya bisa mematung dalam senyap. Mungkin malam tengah dirundung duka. Dan beberapa jam ini aku menantimu untuk menceritakan semuanya.”

Sepanjang perjalanan, direngkuhnya sinar-sinar lembut mentari dari balik kaca helm-nya. Berbisik lirih, memuisi. Kepada alam gadis ini menghaturkan segerombolan rindu yang telah menganak-sungai.

Mentari tertunduk.

“Tidakkah kau merinduku?” rintih sang gadis dengan mata penuh harap. “Aku merindukanmu. Jika tak, untuk apa aku mencarimu sampai ke kolong langit?”

“Ah, rindu sebatas kata bagimu,” desah mentari manja, menatap angkasa yang biru.

Perlahan bulir bening mengalir dari kelopak mata sang gadis cantik. Kecewa. Sekerjap mata mentari yang tak mengerti, mencoba meraih wajah gadis yang berlinang air mata. “Pergilah!” desahnya di sela rimis gerimis yang tiba-tiba meluncur dari angkasa. “Aku harus segera sampai di sekolahku,” usirnya.

Mentari membisu. Semburat luka terbaca dari wajahnya. Namun sang gadis tak peduli. Disingkapnya jas hujan, agar air tak membasahi seragamnya, tanpa melihat sosok mentari yang beringsut pergi. Udara tiba-tiba berputar. Bercerai-berai sosok mentari. Menyerpih menjadi huruf-huruf yang menusuk perih.

“Aku akan kembali padamu.” Mentari lalu menghilang dalam hitungan detik waktu.        Kembali pagi bersanggul dingin. Sang gadis melanjutkan perjalanannya. Sendirian. Jika tahu hari akan hujan, ia akan memilih diantar Ayah. Tapi Tuhan telah mendaratkan agenda-Nya. Sebuah kumpulan air memang harus tumpah pagi ini. Melanjutkan misi dalam rute musim basah. Agaknya ada sedikit semburat kecewa yang muncul dari sudut bibirnya. Melengkung bulan sabit.

Dalam sisa perjalanannya, notasi cinta digantinya dengan irama pilu. Penuh dengan nada sendu. Selintas kemudian, terbersit bayangan Nenek yang tengah tergeletak di kasur tuanya. Sedang bergulat dengan penyakit yang sejak dulu hinggap dalam tubuhnya. Meski begitu, senyum tulus selalu hadir dalam gores keriputnya. Seakan berkata bahwa Beliau tak apa.

Gadis ini tengah menangis bersama alam.  Menangisi perjuangan sang Nenek yang tak pernah berkeluh. Meski sembuh tak kunjung terbit, namun semangatnya masih saja berkobar. Bagai api bertemu angin. Meski begitu, penyakitnya tak kabur tapi malah mengendap dan mengantarkan tubuhnya semakin lemas.

Betapa jelas semburat sedih ini terpancar dari wajah sang gadis belia. Bersama hujan, ia berikan saksi kepada alam dengan tangisnya. Ia begitu menyayanginya. Sangat. Berharap angin mau mengantarkan selaksa doa untuk kesembuhan sang Nenek tercinta.

Nenek, Nenekku yang baik. Cepatlah sembuh. Ingin sekali aku melihat senyummu tanpa ada kata sakit di sana. Rindu rasanya untuk segera berbincang tentang wanita dewasa. Dan akulah calonnya.

Begitulah ia, merapal doa selama perjalanan. Alam masih hujan. Dan ia tak mau doanya hanyut lalu mengalir atau tenggelam. Mulut mungilnya masih saja sibuk mengeja kata. Tersenyum. Dia berkomat-kamit lagi. Mengulang-ulang doa dan dzikir dalam setiap desah nafasnya.

***

            “Nduk[1], Cah Ayu, segala permasalahan itu yang dipikirkan mbok ya yang penting-penting saja. Yang punya manfaat,” ucap Mbah Ti[2] suatu hari.

“Iya, Mbah. Tapi ya tetep aja, sakit hati. Temen-temen Nda tuh banyak yang usil,” kataku.

“Memang hidup kayak gitu, kejam.”

“Uhm… gitu toh?”

“Iya, semakin kita di atas, semakin banyak masalah yang menghadang. Tergantung kita. Berani menghadapi atau akan kalah untuk selamanya. Makanya, kita harus tegas tapi bijaksana.”

Nda hanya manggut-manggut.

“Dan buat Mbah Ti, hidup akan lebih indah dan bermakna jika kita bisa berguna dan menolong orang lain….”

“Iya, Mbah. Moga aja Nda bisa gitu.” Kupeluk Beliau.

“Ini juga Nda baru belajar, Sayang. Mbah yakin, Nda tuh anak yang pinter. Banyakin doa ya, Sayang. biar kita ndak  salah langkah.”

“Amin.”

“Dah, sekarang tidur. Pasrahkan semua kepada Yang Mahakuasa. Semua pasti ada balasannya. Ok, Sayang?”

“Ok dah, Mbah. Makasih ya, Mbah Ti….”

Begitulah waktu, selalu mendewasakan manusia dengan segenap caranya. Dan bagi Nda, panggilan Olinda Mumtaz, sang Nenek adalah tempat sampahnya. Tempatnya membuang segala beban hidup yang menguras energi.

Selalu saja ada jalan keluar yang Mbah Ti sodorkan untuk Nda. Dan lebih ajaib lagi, saran-saran Beliau terbukti ampuh menangkal hujan badai maupun angin ribut dalam setiap permasalahannya. Jadi tak heran, jika Nda betah berlama-lama di kamar Mbah Ti, Ibu dari sang Ayah.

***

Senyum Beliau kembali mendarat di sudut kelopak matanya. Membuat alur air dari sana. Lagi. meski perjalanannya telah usai. Kini Nda sudah sampai di sekolah tercintanya. Sekolah yang akan ditinggalkannya dalam waktu dekat. Cepat-cepat ia mengusap matanya yang sembab. Berharap tak satupun yang tahu kalau ada bekas aliran air yang menganak sungai.

Setelah motor ia parkirkan rapi, Nda berjalan santai menuju kelas. Kelas Bahasa. Ya, Nda adalah siswi SMA jurusan Ilmu Bahasa. Jurusan yang sangat jarang dijumpai. Dan Nda memilih itu. Ia ingin menjadi seorang ahli bahasa. Menjadi duta besar. Bekerja di Jepang maupun Jerman. Ah, sebuah mimpi remaja. Nda sangat berambisi untuk meraihnya.

Diletakkannya tas di bangku terdepan. Nda sangat suka duduk di situ. Lebih jelas dengan suara guru. Lagipula dia juga sudah nyaman di posisi itu. Rasanya pas, berada di titik tengah kelas, membuatnya bisa memperhatikan segala yang ada. Nda lalu menyamankan duduknya, mengeluarkan novel epik, lalu berimajinasi lagi. Meski sakit di kepalanya sudah ada sedari tadi.

Kalau ingat saat bingung menentukan pilihan antara IPA dan Ilmu Bahasa, Nda masih terkekeh dibuatnya. Meski nilainya cukup memuaskan untuk belajar Biologi, Fisika, dan Kimia, namun Nda sangat benci mereka.

Apalagi Fisika dengan segudang rumusnya. Bahkan sampai sekarang, ia belum sekalipun berdamai dengan mata pelajaran itu. Membingungkan. Banyak sekali rumus peranakan. Pernah ia sampai muntah tatkala belajar Fisika untuk ujian. Tak kuat. Ibu sampai bingung dibuatnya.

Begitu pula dengan Kimia. Banyak sekali senyawa yang harus dihapalnya. Sebaris komposisi, sifat zat, maupun struktur benda tak pernah sukses dijabatnya. Mereka selalu menghindar. Mulai dari atom hingga kelas molekul.

Terkadang, ia seperti plasma, membutuhkan energi yang besar untuk mempelajarinya. Jika tak, Nda harus rela gemetaran. Di waktu lain, Nda juga harus berani melawan gravitasi agar tak limbung. Tak mengenakkan untuknya memang. Sangat. Satu prinsipnya, mengalir bersama gravitasi, lalu tak terikat dengan rumus.

Lain lagi dengan IPS. Nda memang tak berminat untuk masuk ke dalamnya. Bukan karena sombong. Tapi lagi-lagi ada pelajaran yang sangat ia jauhi. Ekonomi dan Akuntansi.

Ia tak bisa mencatat transaksi masa remaja yang selalu berseliweran dalam kesehariannya. Hanya dibiarkan lewat begitu saja. Tak ada sama sekali. Nihil. Kalaupun Nda disuruh membuat keputusan, ia lebih memilih untuk menyingkir. Menjauh dari permasalahan. Kalau perlu dihapus dari laporan. Huft!

Dan Ekonomi dengan segala macam masalahnya. Aih, seolah-olah Nda masuk jurusan Ilmu Bahasa hanya untuk alibi, menjauhi mereka. Konyol memang. Tapi itulah Nda.

Meski begitu, ternyata Nda bisa menemukan jati dirinya di kelas ini. Banyaknya bahasa yang ia pelajari, semakin membuatnya penasaran akan bumi yang ia injak. Nda ingin keliling dunia. “Mempraktekkan ilmu,” katanya. Dan teman-temannya hanya bisa geleng-geleng kepala saat ia cas-cis-cus melafalkan bahasa asingnya.

Seperti kemarin, saat pelajaran Bahasa Jerman.

“Eko, coba baca soal nomor dua,” ucap Pak Bana, Guru Bahasa Jerman. “Kalau subjeknya dia (laki-laki) kata pakai sein[3] apa?”

“Uhm….” Eko sibuk membolak-balikkan catatan. Sepertinya dia lupa atau mungkin tidak fokus dengan pertemuan kemarin. Waktu berselang, jam terus saja memutar diri. Lama. Eko masih sibuk dengan catatannya. Pak Bana yang terkenal killer  telah memasang muka seramnya.

“Saya, Pak,” ucap Nda. “Jika kondisi seperti soal nomor dua ini, seharusnya kita pakai sein ist.”

“Bagus. Coba kamu lanjutkan soal yang ketiga. Dalam soal ini subjeknya Ani dan Budi. Bagaimana bentuk sein-nya?”

“Untuk soal nomor tiga ini, memakai sein sind, Pak. Jadinya Ani und Budi (sind) aus Magelang. Sie (sind) 21 und 22 jahre alt[4].” Fasih sekali.  Sepertinya ia begitu menikmati posisinya di kelas Bahasa.

***

Berbeda dengan Ayah dan Ibunya. Sebetulnya mereka lebih senang jika Nda masuk jurusan IPA, agar bisa jadi dokter, katanya. Alasan klasik. Bahkan dulu sempat ada perdebatan kecil di antara mereka. Berusaha untuk mempertahankan pendapat dan ego masing-masing.

Namun, tetap saja. Seteguh apapun alasan Ayahnya, semanis apapun rayuan Ibunya, Nda tetap tegap berdiri di atas pilihan hatinya. Dia bilang, “Yang sekolah kan Nda, bukan Ayah sama Ibu. Lagipula Nda ndak suka sama Fisika. Ibu ingatkan saat Nda muntah-muntah dulu. Nda ndak mau.” Lalu si gadis masuk kamar, mengunci pintunya. Dan malam harinya keluarga kecil ini pergi makan malam bersama.

Tak heran jika Ayah dan Ibunya menyuruh Nda agar mau masuk IPA. Beliau lulusan S2 di salah satu universitas di Jerman. Begitu pula Ibunya. Meski baru S1, namun dari universitas yang sama. Dalam benak Ayah, Nda bisa Beliau daftarkan di sana, di Jerman. Lebih gampang. Karena tak semua SMA ada jurusan Ilmu Bahasa, jadi Beliau bingung. Apa bisa?

“Sudahlah, Ayah. Teman kita di sana kan banyak. Lagipula beasiswa yang bagus juga ndak cuma di Jerman aja. Saya yakin, Nda bisa. Dia anak yang cerdas,” kata Ibu lembut.

“Iya sih, tapi akan lebih mudah jika kita tahu bidangnya, kan?” ucap Ayah.

“Kita bisa cari informasi dari sekretariat kampus. Ayah masih simpan alamat pos-el Kak Randi, kan? Mungkin Beliau bisa bantu.”

“Iya, nanti akan Ayah tanyakan.”

“Saya juga mau browsing tentang beasiswa-beasiswa yang lain. Yang sekiranya lulusan Ilmu Bahasa bisa lolos. Dalam negeri juga ndak apa kan, Ayah?”

“Uhm… kita fokus dulu ke ujian akhirnya, masalah beasiswa ataupun kuliah Nda, bisa sambil jalan, Bu. Yang penting jangka pendek dulu saja.”

“Iyah.”

Ayah dan Ibu kembali menyeruput teh hangatnya. Sedang santai di bawah tirai alam, membuat suasana menjadi tambah romantis. Mereka memandangi selaput senja yang kini kian menipis menjadi gelap. Langit yang tadinya jingga kemerahan kini mengelam tersapu jelaga. Malam yang sempurna. Segaris bulan menelikung di pohon kelapa. Cahaya bintang pecah tersebar. Bumi gelap. Dan, tak ada percakapan angin. Semesta kembali purba.

***

Olinda Mumtaz, itu namaku. Deretan nama indah pemberian Ayah. Beliau bilang nama itu punya arti ‘Bunga yang Istimewa’. Bunga. Ya, sebuah kata yang mencerminkan pemiliknya. Harum, kata pertama yang terlintas saat mendengar maupun membacanya. Mungkin itu yang Beliau harapkan padaku. Mengharumkan dunia. Ah, tidak, mengharumkan diri sendiri dan orang-orang yang ada di sekelilingku saja sudah cukup rasanya. Tak harus mendunia….

Saat bintang melambai pada malam, kelam mulai beranjak dari tempatnya rebahan. Cahaya emas dari timur mulai menyulut. Mewarna selaksa panen raya jeruk. Berkobar bak api yang sedang mengamuk. Mulai berpendar ke angkasa yang meriuh.

Sejenak kemudian alam meriak dari riuhnya. Kokok ayam jantan membangunkan embun yang sedari tadi tergeletak dalam pelukan daun. Kemudian, ayam jantan pun mengambil alih percakapan mereka. Di mulut ayam jantan yang telah berkokok sejak jutaaan tahun silam, kata-kata menemukan melodi yang membuai menghanyutkan. Ayam-ayam jantan berkata-kata dengan melodi yang jauh lebih menawan.

 


[1] Jawa;Panggilan untuk anak perempuan

[2] Simbah Putri, Nenek

[3] Jerman, kata bantu, seperti to be dalam bahasa Inggris.

[4] Ani dan Budi berasal dari Magelang. Mereka berumur 21 dan 22 tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s