Narasi Rindu

 untuk Ochman

Hujan lagi. Apakah peri-peri yang terbang bersama rintik hujan itu tak melihat ada hujan yang lebih gerimis di hatiku? Mengapa mereka tak mengalah saja dan membiarkan ruang hatiku terbanjiri oleh berliter-liter air mata yang jatuh.

Disini, ingin sekali mengatakan aku merindu. Sangat. Sungguh. Dengan segala rasa yang mungkin belum pernah terlahir sebagai ucapan atau untaian kata dalam berlembar-lembar kertas puisi. Begitu sendu. Seperti mendung.

Gigil yang perlahan meresapi setiap kali desahan nafas berlalu. Beginikah rasanya terkepung oleh kerinduan yang pekat? Ini rindu makin kelabu saja. Entah akan terpecah seperti arakan awan tempat bernaung peri-peri hujan, ataukah makin menggumpalkan hitam mendung hingga menjadi jelaga.

Aila Nadari

2 thoughts on “Narasi Rindu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s