Bintang Utaraku

: untuk Ochman

Aku ingin kau tahu, bahwa hanya kau yang bisa buatku tertawa lagi setelah dokter memberiku diagnosa yang sangat mengganggu hidupku, keseharianku, aktivitasku, bahkan kerdipan mata, dan hembusan napasku. Langkah kakiku terasa berat. Sinar mentari tak lagi hangat saat itu. Seakan segalanya hilang bersama obat-obat yang memang seharusnya aku telan. Hanya kerdipan manja bintang yang sanggup usir sepi yang tak berujung. Hanya semilir angin malam yang berbisik ketika aku duduk sendiri memeluk lutut di taman sunyiku.

Di saat aku tengah terpekur di antara tablet-tablet obat, yang seakan mimpi-mimpiku turut hancur di dalam usus besarku. Hanya lamunan yang sanggup hibur diriku. Lamunan semu yang setia menemaniku habiskan waktu. Entah. Segalanya, tak terkecuali. Membayangkan jika aku berada di antara guguran sakura, di antara huruf-huruf  kana[1], menikmati onigiri[2], dan memakai yukata[3]. Dan segalanya hilang tatkala aku menginginkan kematian segera menggamitku. Dijemput malaikat maut dengan kereta kencananya, mengulurkan tangan pasrah berharap jiwa diambil bukan secara paksa, berkhayal segalanya akan berakhir secara nyata.

Saat itu, asa-ku mulai goyah. Rantingku mulai patah. Daunku gugur dalam warna kardusnya. Tanahku kering dan berongga. Pelangiku memudar. Akh, segalanya benar-benar hilang.

Dan kau bagaikan malaikat bagiku. Malaikat dengan sayap putih yang mengajakku terbang dari kesakitan. Kau bagaikan pangeran berkuda yang menjemputku dari kepayahan. Kau bagai kandil gemerlap yang menyinariku di kala sepi. Kau yang buatku tersenyum meski sakit. Kau yang buatku tertawa meski ku perih

O ya, Ochm. Aku minta something. Buatlah aku tersenyum hingga aku tak kuat lagi. Buatlah aku tertawa hingga kelopakku gugur.

Yurochman Sulistyoko Romadhon

Maaf, aku belum bisa menepati janji kita untuk sembuh sama-sama. Aku telalu payah untuk menelan butir-butir racun. Aku terlalu malas untuk merawat kesehatanku. Maaf. Aku hanya ingin kau sehat terlebih dahulu. Setiap malam aku mendoa, agar kau sembuh dari segala sakitmu, sembuh yang tak sakit lagi, agar kau selalu diberi kesehatan oleh-Nya, agar….

Jangan bosan untuk mengantarku pulang. tenang saja, masalah ongkos akan aku bayar jika aku sudah tak sanggup membayarnya. Jangan bosan untuk jadi tempat sampahku. Aku akan tetap berceloteh dan menceritakan pengalamanku hingga bibirku terkatup. Jangan pernah berhenti tersenyum hingga aku tak bisa melihatnya lagi.

Aku menyayangimu, Bintang Utaraku. Jangan pernah berhenti berkedip padaku. Jangan pernah beralih dari pandanganku. Teruslah bersinar dalam gelap sakitku.


[1] Huruf asli Jepang; katakana & hiragana

[2] Makanan Jepang

[3] Pakaian khas Jepang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s