Pelabuhan yang Lain

: untuk Yurochman

Kembali aku terkapar di sini. Menangis bersama air mata yang selalu setia menemaniku habiskan malam yang sunyi. Mengerang dengan sakit yang kudera setiap hari. Menyesal bersama waktu yang kulewati di setiap detik yang tertinggal. Malam ini, aku merasa hampa. Tanpa isi, hanya jiwa yang kosong. Tak berbentuk rupa.

Satu hal yang pasti. Sebab yang buatku jadi seperti ini, Papa dan Mama. Kau boleh bilang kalau aku egois, karena semua kesalahan aku limpahkan pada mereka, silahkan. Tapi itulah yang terjadi denganku. Setiap hari aku menangis karena memikirkan mereka. Setiap hari aku mengerang kesakitan gara-gara mereka. Aku ingat saat mereka berantem. Tatapan itu, seperti singa lapar yang disuguhi daging segar. Suara meraka yang beradu laksana petir yang saling menyambar.

Aku ingat betul saat mereka kembali bertikai untuk yang kesekian kalinya. Teriakan-teriakan yang kudengar dari balik pintu kamar rasanya sangat menyakitkan. Pun sampai saat kaca lemari dipecahkan oleh Papa. Bunyi-bunyi itu masih jelas dalam ingatan. Lalu, saat aku membersihkan pecahan-pecahan kaca, kumasukkan satu per satu. Kenapa tak terpikirkan olehku untuk menggoreskan luka di pergelangan tanganku? Biar bunyi-bunyi itu tak terdengar lagi. Biar semuanya berakhir secara nyata. Dan biar aku tak menyaksikan adegan-adegan itu lagi. Aku muak, lelah, pusing.

Muak dengan semua serapah yang mereka ucapkan hingga menambah kosa kataku. Kata-kata itu sungguh mengotori pikiranku. Terlalu jijik mendengar kata itu terucap kembali. Ingin muntah rasanya.

Aku teramat lelah dengan semua ini. Namun bukan kaki ataupun tangan yang harus aku pijit, melainkan hati dan jiwaku yang harus aku manjakan. Terlalu sering aku sabar dan menghela napas sengal. Dadaku sudah sekian lama hanyut dalam belaian palsu kasih sayang.

Ochman,

Terkait masalah Papa-Mama, aku terlalu iri dengan Bapak-Ibu, kedua orang tuamu yang sudah lama kupanggil begitu. Mereka sungguh akur. Sungguh bahagia mungkin keluargamu. Tak seperti punyaku. Bahkan saat pulang pun, aku harus menemui Papa-Mama secara terpisah, di waktu dan tempat yang berbeda. Dan lagi-lagi aku selalu menangis jika membayangkan semua itu.

Semakin jauh aku melangkah ke keluargamu, semakin aku bertambah jauh denganmu. Bukan karena perasaan, tapi karena sebuah keluarga yang sangat membedakan kita. Aku terlalu iri melihat keluargamu, meski tak bisa dipungkiri lagi, aku sudah terlalu nyaman berada di tengah-tengah mereka. Kehangatan saat berkumpul menjadikan keluargamu sebuah magnet saat aku pulang. Namun, tetap saja sepulang dari rumahmu, aku selalu menangis membayangkan Papa-Mamaku.

Ochman,

Terlepas dari semua iriku, aku sangat bahagia bisa mendapatkan kasih sayang dari Bapak-Ibu. Menjadi anak perempuan satu-satunya di keluargamu sungguh menjadi pelabuhan kasih bagiku. Dari mereka pula, aku bisa mengambil sikap untuk Papa-Mamaku. Yah, paling tidak, aku sudah punya pegangan untuk mengurus anak-anakku kelak. Aku tak mau mereka merasakan hal yang sama denganku.

Terima kasih, Ochm, sudah bersedia mengenalkan keluargamu padaku. Tetaplah menjadi Bintang Utaraku. Jangan pernah berhenti berkedip padaku.

Terima kasih Pa, Ma, sudah mendewasakanku dengan berbagai macam cara ayumu. Aku sayang kalian….

Terima kasih, Pak, Bu, Mila sudah bisa berdiri sekarang meski limbung.

Bintaro, Februari 2012

                                                                                                Anakmu di rantau

2 thoughts on “Pelabuhan yang Lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s