NONFIKSI: Penulisan Dialog dalam Cerpen

Assalamu’alaikum..
Pagi TemanAlhamdulillah senangnya bisa ketemu lagi dengan hari Selasa pagi yang insyaAllah penuh barokah ini. Oya, seperti biasa, Selasa ini rubrik nonfiksi kembali hadir untuk menemani Teman TamSas dalam menjalankan segala aktivitas.Kali ini, kita akan sama-sama belajar mengenai penulisan dialog dalam cerpen. Sebagai penulis pemula, kita seringkali merasa bingung atau ragu ketika menulis dialog dalam cerpen maupun novel.

So, supaya lebih jelas, kita simak yuk pembahasan berikut ini! Semoga dapat bermanfaat yaa.. ^___^

PENULISAN DIALOG DALAM CERPEN
Dalam cerita Fiksi, salah satu kegunaan dialog adalah untuk menggambarkan karakter dari para tokohnya. Dialog juga merupakan manifestasi fungsi “Show” not “Tell” pada cerita. Dengan teknik tersebut penulis mengeksplorasi cerita, sehingga  menjadi lebih hidup dan menarik.

Tulisan berikut   hanya sebatas ulasan dialog dilihat dari konstruksi fisik (bentuk). Sedangkan isinya, akan dibahas terpisah.

KONVENSI DIALOG
Dalam dunia Kepenulisan, berlaku aturan tak tertulis (konvensi) cara menulis dialog. Editor mungkin akan mengijinkan kesalahan penulisan, terutama pada cerpen yang tak terlampau banyak menggunakan dialog. Tetapi tidak demikian halnya dengan novel. Berikut beberapa konvensi  pemakaian dialog:

1. Tanda petik ganda (“) memberi makna pada pembaca bahwa seseorang sedang berbicara.  
(Paragraf) “Bawa sepatu itu kemari.”
(Paragraf)  “Jangan tinggalkan aku!”
Kata/kalimat yang berada diantara dua tanda petik ganda merupakan isi pembicaraan dari tokoh tertentu. Dialog ditulis dengan menggunakan paragraf baru.2. Umumnya, setiap pergantian paragraf menandakan pergantian orang yang berbicara. Dengan kata lain, setiap pembicara memerlukan satu paragraf (untuk mengeksplorasi perkataan dan tindakannya). Hal tersebut berfungsi memudahkan pembaca dalam mengindentifikasi siapa yang berbicara.
“Saya hanya bisa mengulangi bahwa saya minta maaf bila telah mengganggu Anda.”
“Itu belum cukup Mr. Holmes!” geram pria tua itu. Ekspresinya sangat menakutkan. Dia berlari menghalangi pintu, dan menuding-nuding kami. “Jangan kira Anda bisa keluar dengan gampang.” Wajahnya merah padam, dia menyeringai dan meracau dengan kemarahan yang tak bisa dimengerti…(Koleksi kasus Sherlock Holmes-Sir Arthur Conan Doyle)
Di paragraf pertama memang belum jelas siapa yang berbicara. Tetapi membaca paragraf berikutnya, kita menjadi tahu bahwa tokoh yang berbicara di paragraf awal adalah Mr. Holmes.
Paragraf kedua tak hanya mengeksplorasi pembicaraan, namun juga tindakan dari pak tua, yang digambarkan sangat emosional dan penuh amarah.3. Dialog dilengkapi dengan tanda pengenal pembicara (atribut), untuk mengenali siapa tokoh yang berbicara.
“Mau makan?”ucap gadis itu
“Ayo, sudah lapar, nih,”ucap sang lelaki.
Pada contoh di atas, ‘ucap gadis itu’ dan ‘ucap sang lelaki’ disebut atribut. Tokoh pada dialog di atas adalah gadis dan lelaki.
Pemakaian kata ‘ucap’ yang terlampau sering, akan membuat monoton cerita. Karenanya, agar variatif, kata ‘ucap’ bisa diganti  dengan kata lain yang mendekati situasi pada saat tersebut. Semisal : kata, ujar, sahut, tandas, pinta, tanya, jawab, ajak, himbau, sergah, tampik, tolak, panggil, teriak, gumam, dll
“Mau makan?”Gadis itu bertanya.
“Ayo, aku sudah lapar, nih.”ajak sang lelaki
“Enaknya makan dimana?”Ucap gadis itu.
“Yang dekat sini aja.”Sang lelaki menyahut cepat.

4. Attribut harus diletakkan di tempat yang logis dan efektif, agar terasa alami.
“Aku tidak,”gadis itu berkata,”mencintaimu lagi.”
“Aku tidak mencintaimu lagi.”Kata gadis itu
Contoh pertama di atas terasa janggal diucapkan dibandingkan contoh kedua, yang tampak lebih alami.

5. Jika dialog terlalu panjang,  atribut bisa diletakkan di tengah, sebagai pemenggalan. Hal tersebut juga menandakan jeda alami; sang tokoh mengambil napas, berhenti berbicara sejenak, berpikir, atau melakukan sesuatu yang lain.
“Ini ikan yang kuat penuh darah,”pikirnya. “Aku beruntung mendapatkannya sebagai pengganti lumba-lumba. Lumba-lumba terlalu manis. Ini manisnya merata dan semua kekuatan masih berada di dalamnya.” (Lelaki Tua dan Laut-Ernest Hemingway)
“Well, Sir Robert,”kata Holmes sambil berdiri,”kasus ini, tentu saja, harus dilaporkan ke polisi. Tugas saya hanya mencari kebenaran faktanya…” (Koleksi kasus Sherlock Holmes-Sir Arthur Conan Doyle)

6. Tak perlu memberikan attribut pada setiap baris dialog, jika hal tersebut sudah cukup menjelaskan siapa-siapa yang berbicara.
Catherine ingin sarapan, begitupun aku. Kami menikmati sarapan di atas tempat tidur dengan nampan di atas pangkuanku, sambil diterangi oleh matahari bulan Nopember.
“Kau tak ingin membaca surat kabar? Kau selalu meminta surat kabar saat masih berada di rumah sakit.”
“Tidak,”kataku. “Aku tak ingin membaca surat kabar saat ini.”
“Sebegitu burukkah sehingga kau tak ingin mengetahui beritanya di surat kabar?”
“Aku tak ingin membacanya.”
“Kuharap aku bersamamu saat itu. Jadi aku tahu apa saja yang terjadi.”
“Aku akan menceritakan padamu, saat otakku bisa berpikir lurus.”
“Apakah mereka takkan menangkapmu karena kau berkeliaran tanpa seragam?”
“Mereka mungkin menembakku.”
(Farewell To Arm-Ernest Hemingway)

Kunci dari membaca dialog di atas adalah paragraf ketiga: “Tidak,”kataku. “Aku tak ingin membaca surat kabar saat ini.” Dengan demikian, menjadi terang bahwa paragraf itu merupakan perkataan dari si Aku. Sehingga, satu paragraf sebelum dan sesudahnya, merupakan perkataan  Catherine.   Dengan demikian akan jelas juga, siapa-siapa yang berbicara di baris paragraf berikutnya.

7. Perkataan seorang tokoh yang terlalu panjang dan menyita lebih dari satu paragraf, ditulis dengan  cara memberi tanda kutip ganda di awal paragraf pertama, dan tak menutupnya dengan tanda kutip di akhir paragraf pertama. Setelahnya, di awal paragraf berikutnya, tanda kutip ganda tersebut disisipkan kembali, dan baru ditutup  di akhir paragraf. Hal itu sekaligus pertanda berakhirnya perkataan tokoh tersebut (yang biasanya berupa penjelasan panjang lebar).
“Biarlah saya yang menjelaskan,” kata Holmes, “untuk menunjukkan bahwa saya mengerti benar urutan peristiwanya. Profesor Watsburry, Watson, terkenal di seluruh Eropa. Hidupnya dibaktikannya untuk pendidikan. Dia tak pernah terlibat skandal apapun. Dia dua dengan dua anak bernama Edith. Setahuku dia pria jantan dan tegas, bisa dikatakan selalu siap siaga. Begitulah keadaannya sampai beberapa bulan terakhir ini.
“Lalu gaya hidupnya berubah. Dia sudah berusia enam puluh satu tapi dia bertunangan dengan gadis muda, putrid professor Murphy, koleganya. Tidak seperti orang-orang seumurnya, dia benar-benar dipenuhi gelora asmara dan tergila-gila pada gadis itu. Tunangannya, Alice Morphy,  memang gadis yang sempurna, baik fisik maupun mental, sehingga bisa dimengerti jika profesor terpikat padanya. Tapi keluarga profesor tak begitu menyetujui pertunangan ini.” (Koleksi kasus Sherlock Holmes-Sir Arthur Conan Doyle)
Pada contoh di atas, di akhir paragraf pertama tidak ada tanda kutip ganda yang menutupnya. Ini berarti pada paragraf kedua, orang yang berbicara masih tokoh yang sama sebagaimana paragraf pertama, yakni Holmes.
http://saturindu.multiply.com/journal/item/450

Menulis Percakapan atau Dialog dalam Cerpen dengan Ejaan yang Tepat

MENULIS

Menulis Cakapan atau Dialog Cerpen dengan Ejaan yang Tepat
Salah satu bagian penting dalam sebuah cerita, termasuk cerpen, adalah dialog atau cakapan. Cerita tidak akan menarik jika seluruhnya berupa narasi (kisahan) dan deskripsi yang diungkapkan dalam kalimat tidak langsung. Cerita menjadi hidup jika terjadi percakapan langsung antartokoh. Para tokoh dibiarkan untuk bercakap-cakap sendiri, mengungkapkan perasaan, pikiran, dan keinginannya secara langsung sehingga kata-kata yang muncul utuh dan asli. Pengarang hanya menyediakan konteks pembicaraan melalui penggambaran suasana.

Dalam menulis cakapan tokoh, harus diperhatikan kaidah atau tata cara penulisannya. Berbeda dengan puisi yang tidak perlu tunduk pada aturan kebahasaan karena memiliki licentia poetica, penulisan cerpen tetap harus mengikuti kaidah kebahasan yang berlaku. Kata-kata dan kalimatnya harus ditulis dengan mengikuti kaidah EYD, termasuk penulisan kalimat atau tuturan langsung. Penulis harus cermat terutama dalam pemilihan dan penempatan tanda baca dan huruf besar.Perhatikan contoh berikut!
Perlahan mataku terbuka, kudapati tubuhku telah berada dalam kamar tidurku. “Di mana Winda?” gumamku. “lstrimu sudah dikebumikan sore tadi,” jawab Mbok yang mungkin sejak tadi menungguiku saat aku tak sadarkan diri.
“Di mana Wati, anakku, Mbok?” tanyaku lagi.
“Wati bersama Mbah Kakung,” jawab Mbok menenangkan.
Perlahan kubuka sepucuk surat wasiat yang diberikan Winda sebelum ia meninggal dunia.Bandingkan dengan kutipan berikut.
“Bu, koran yang itu jangan di kembalikan lho!” teriak Paimo kepada Istrinya,” Lho, ini kan harus segera aku kembalikan ke rumah Pak Harjo, untuk kemudian meminjam lagi yang hari kemarin,” jawab istrinya. Sebagai lulusan perguruan tinggi, Paimo belum bisa lepas dari yang disebut koran. Hanya saja karena tak mampu membeli koran, apa lagi berlangganan Paimo hanya nebeng membaca koran milik keluarga Pak Harjo.

Cakapan tokoh dalam cerpen ditulis ke bawah, setiap ganti tuturan ganti
baris. Cakapan ditulis dalam alinea baru sehingga pergantian tokoh terlihat
dengan jelas.
Aktivitas Diri

Bacalah penggalan cerita berikut. Perhatikan dengan saksama penulisan dialog.
Salin dan perbaikilah jika kamu anggap tidak tepat.

“Terus,t erus?”,N andam akin bersemangamt endengarkanc eritaT ita. Dia bahkan tidak berkedip dan mulutnya setengah menganga. “Terus Adit nonjok Ergi sampai jatuh. Kasihan deh dia berdarah.”
“Berdarah? Jago juga suami lo.”
“lya lah.A dit kan lebih gede dari Ergi,w ajar aja Ergi langsungj atuh. Tapi, gue jadi ngga enak sama Fara. Jangan-jangan mereka nggak ada hubungan apa-apa.Gue udah fitnah dia kemarin.”
“Lo sih, main semprot aja. Eh, orangnya datang.”, Kata Nanda sambil melirik ke arah pintu kelas, Tita langsung melihat ke arah pintu dan Fara memang baru dating dengan tas ranselnya yang besar. Wajahnya langsung berubah murung begitu melihat Tita. Fara kemudian berjalan menuju mejanya dengan lesu. “Gue ngomong nggak ya sama dia?” tanya Tita sambil menggigit jari telunjuknya.
“Udah, ngomong aja. Kasihan tau?”
“Ya udah deh.”
Tita kemudian berjalan menuju meja Fara dan duduk di bangku sebelahnya. Fara yang tadinya sibuk mengeluarkan buku-bukunya, menatap Tita dengan bingung.
(Dikutip dari Eiffel…l’m in Love karya Rachamania Arunita, hlm 101, dengan pengubahan)
http://www.crayonpedia.org/mw/Menulis_Percakapan_atau_Dialog_dalam_Cerpen_dengan_Ejaan_yang_Tepat_12.1
Yuk sama-sama kita coba mengedit tulisan di atas.
Jika teman-teman mau membuat contoh dialog dan narasi yang pernah dibuat..silakan saja..
Atau mungkin teman-teman mau bertanya seputar penulisan dialog ini? Silakan ya..

Semoga bermanfaat.. ^__^

14 thoughts on “NONFIKSI: Penulisan Dialog dalam Cerpen

    • kepada Kak Susanti Dewi,
      maaf atas ketidaknyamanan ini. mari kita ulas ya🙂
      “Aku tidak mencintaimu lagi.” Kata gadis itu. >> nah untuk jenis kasus seperti ini ada dua kesalahan. pertama sebelum tanda petik di belakang itu harusnya koma (,) bukan titik (.) dan ditulis setelah tanda petik. Untuk kasus kedua benar seperti pernyataan Kakak kalau huruf k seharusnya memakai huruf kecil. Jadi kalimat yang benar adalah, “Aku tidak mencintaimu lagi”, kata gadis itu.

      terima kasih😀
      salam kenal

      • “Aku tidak mencintaimu lagi”, kata gadis itu.
        apa tanda koma(,) memang bisa di luar tanda petik seperti contoh di atas?. Soalnya saya baca dari sumber lain kalo tanda baca berada dalam tanda petik. Makasih buat ulasannya, berguna banget buat aku yang baru belajar nulis hehe…

      • halo….
        terima kasih ya udah mengulas sampai tanda bacanya. saya salut🙂
        kalo setahu saya, tanda koma (,) itu ada di luar tanda petik. soalnya ada keterangan di belakangnya. tapi kalo tanda titik (.) baru du dalam.
        misal :
        “Aku bahkan sudah tidak menyukainya lagi”, ucap Evi di sebuah sore yang berembun. >> ada keterangan di belakang kalimat langsung.
        Evi berkata padaku, “AKu bahkan tidak menyukainya lagi.” >> kalau yang ini menandakan jika kalimat langsung selesai.

        CMIIW
        mari belajar bersama🙂

  1. add FB ku mba Ai Chan banyak yg mau saya tanyakan perihal cara penulisan Novel,
    cara penulisan novel dari banyak sudut bikin saya stress nulisnya.

    Contoh (tolong di koreksi) soal penulisan angka atau waktu juga buat saya pusing

    Setitik embun pagi terjatuh dari sehelai daun kecil yang hijau,sinar mentari yang hangat menyapa lembut bumi dipagi hari ini,didalam kediaman keluarga kecil Oktavianus,senyuman telah mengiringi langkah kecil gadis muda yang begitu penuh semangat,hari ini adalah hari dimana Mutiara akan melihat hasil dari 3tahunnya belajar dikursi SMA.

    “Bunda…”seru Mutiara dengan penuh semangat.

    “Iya ada apa?”jawab seorang wanita yang mendekati Mutiara.

    “Tiara jalan dulu ya.”

    “Bersemangat sekali,sudah tidak sabar ya?”

    “iya hihihi.”

    “Sarapan dulu,lagi pula teman-temanmu belum datang.”

    “Iya nih kenapa mereka belum sampai ya?”

    “Memangnya kamu tidak sadar,inikan baru jam setengah enam pagi.”

    “Masa sih?”lalu gadis muda itu melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya”iya hihihi.”

    “Dasar kamunya saja yang terburu-buru.”

    “Hihihi,oh iya ayah kemana? “tanya Mutiara.

    “Ayah sudah lebih dulu berangkat,ada rapat penting katanya,tapi ayah janji akan pulang secepatnya,”wanita setengah baya itu menerangkan kepada putrinya.

    “Oke deh.”

    Lalu kemudian wanita dewasa itu meraih tangan putrinya tersebut dan menatap dalam-dalam kearah kedua bola mata Mutiara,seolah ia mengatakan betapa bahagianya ia melihat putri kecilnya telah beranjak dewasa,dan menjadi wanita dewasa yang bertanggung jawab akan diri dan keluarganya.

    “Kau tahu sayang,bahwa bunda sangat bangga padamu,bukan hanya hari ini tapi semenjak kau hadir dikehidupan bunda,tak henti-hentinya kau membuat ayah dan bunda mu ini bangga,”seru wanita tersebut terhadap putrinya seraya tersenyum dan tanpa ia sadari setitik air mata menetes dari mata kirinya,perlahan ia membelai pipi putrinya tersebut dengan lembut lalu berucap,”bunda sangat menyayangimu.”

  2. halo kak.. saya mau bertanya soal penggunaan tanda koma (,) dalam dialog.
    pada novel yg saya baca, banyak menggunakan tanda koma (,) alih-alih titik meski dialog selanjutnya diucapkan tokoh lain. bisa dijelaskan kak kapan saja kita memakai tanda (,) pada sebuah dialog? maksaih ^^

    • haloo, maaf ya pesannya baru saya buka ^_^
      terkait tanda koma (,) dalam penulisan dialog, yuk duduk bersama🙂

      Selain digunakan secara normal dalam sebuah kalimat, tanda (,) terkadang juga menyusup ke dalam dialog seperti ini,

      contoh 1
      “Ini ikan yang kuat penuh darah,” pikirnya. “Aku beruntung mendapatkannya sebagai pengganti lumba-lumba. Lumba-lumba terlalu manis. Ini manisnya merata dan semua kekuatan masih berada di dalamnya.” (Lelaki Tua dan Laut-Ernest Hemingway)
      ==> tanda koma dipakai setelah tanda petik dua (“) untuk menyudahi kalimat langsung sekaligus memberikan keterangan siapa yang berdialog. Biasanya memakai kata; katanya, jawabnya, ucap, dll.

      contoh 2
      “Tolong,” katanya, “anakku sakit dan seminggu ini aku tidak bisa pol setor. Tolong.” Jojon menatap.
      ==> tanda (,) sebelum kata ‘kaanya di atas berfungsi sebagai penekanan. Jika diubah menjadi, “olong, anakkua sakit…. ” pun tak masalah😉

      contoh 3
      “Kanda, maafkan aku,” terdengar suara Panglima Banggan bergetar, “Aku dan Putri Ayu tak bisa membohongi hati. Bila Kanda berbesar, aku akan memohon pengampunan dan restu pada Paduka Raja…”
      ==> sama seperti contoh 2, fungsi tanda (,) di sini sebagai penjelas dan penekanan situasi.

      jika ada kasus lain, bisa di-copas ke sini allu dibahas bersama ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s